Sajak Lalu
Selaksa angin membawa kabar dari seberang jalan yang entah kapan akan sedia membawa pulang seonggok tubuh yang rindu dicumbu bahwa yang dinanti tak pernah menunggu Seperti dua cahaya yang berbeda yang satu ingin bertemu pada malam nanti sedang siang ini tidak pernah mengerti bahwa satu kali saja tak kan terjadi Kepalang direndam kehangatan yang dibawa angin juga tak datang benar benar ditelan hingar bingar jadi harus terpasa menelan yang dibuat sendirian berupa luka dan cerita Sama sama tidak tahu tidak tahu untuk menanti tidak setuju kalau harus menunggu Di beranda rumah yang dilewati malam itu terdengar jeritan kabar kabar barang kali setengah ekor burung karena tak mampu bercericit tak juga mengadu domba suara jantan atau betina Jelas, itu pekikan kabar yang rindu dicumbu tapi yang dinanti tak mau mengerti bahwa sudah ada kabar sejak seminggu