Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Sajak Lalu

Selaksa angin membawa kabar dari seberang jalan yang entah kapan akan sedia membawa pulang seonggok tubuh yang rindu dicumbu bahwa yang dinanti tak pernah menunggu Seperti dua cahaya yang berbeda yang satu ingin bertemu pada malam nanti sedang siang ini tidak pernah mengerti bahwa satu kali saja tak kan terjadi Kepalang direndam kehangatan yang dibawa angin juga tak datang benar benar ditelan hingar bingar jadi harus terpasa menelan yang dibuat sendirian berupa luka dan cerita Sama sama tidak tahu tidak tahu untuk menanti tidak setuju kalau harus menunggu Di beranda rumah yang dilewati malam itu terdengar jeritan kabar kabar barang kali setengah ekor burung karena tak mampu bercericit tak juga mengadu domba suara jantan atau betina Jelas, itu pekikan kabar yang rindu dicumbu tapi yang dinanti tak mau mengerti bahwa sudah ada kabar sejak seminggu

Anak Kecil Bicara

Kata emak enak dulu, dulu itu walau susah payah tidak terlalu sengsara Masih ada pisang dari kebun belakang atau ubi yang kemarin dibawa bapak dari ladang bude direbus sebentar sudah masak sudah bisa disajikan sudah bisa disantap sudah bia bikin kenyang sudah bisa buat sangu ke sekolah Kata bapak juga begitu, sama dengan kata emak yang dulu itu Minyak tanah masih seharga permen dua biji beli seliter cukup seminggu bisa lebih Minyak goreng sama dengan harga puli bisa buat goreng tempe ikan asin buat goreng singkong puli Dulu masih banyak lahan luas yang bisa buat main bola lari sana sini kejar ana ani, tono toni layangan bebas terbang belum ada  gudang yang menjulang Juga banyak pohon rindang petak umpet di sana main mobil kayu masak pakai kaleng bekas bikin rumah kecil buat keluarga kecil Uangnya dari daun yang dibeli berbentuk daun Kalau sekarang barang kali masih ada Masih ada yang mau dihilangkan masih ada yang mau dibuat gudang masih ada ...