Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

Mayat dan Selongsong Senapan Tua

Ketika nada sumbang mengaung Mayat-mayat berdiri serentak Mengangkat segala daya dalam tulang yang rapuh Memeluk selongsong senapan tua Mengarahkannya pada lawan yang bergidik memandang wajah garangnya Kala mayat-mayat membusuk di karam tanah Wajah lusuh tersenyum dalam kesenyapan terangnya malam Menahan lirihnya jeritan dalam keperihan luka terbakar peluru Melupakan seluruh tangan yang melambaik an senapan panas Ayunan langkah kaki di kejauhan bukit pelupuk pandang Dan tubuh yang terpanggang teriknya hangat pergulatan di medan Saat wajah lusuh membusungkan dada Dentuman meriam bagai lagu pengantar lelapnya mimpi Senapan layaknya kayu ubi yang tak lagi mampu menjalar Peluru timah seperti biji bayam tergerus tank baja Luka punggungpun bak gigitan semut hitam Lalu wajah lusuh kembali mengembang senyum Tangan merangkak mengayun selongsong senapan Memanggang segala lawan dalam kepahitan Tak lama senyumnya menghilang Setelah dentuman meriam terakhir

Selamat Datang Kematian

Selamat datang kematian! Kaulah makhluk terbaik penghancur nista Hujan di luar telah setuju Bawalah kami!

Rindu Jerami

Rindu pada sebuah jerami yang terbakar di tengah petak sawah lalu jadi arang hitam dan mulai mendebui udara Rerumputan bergoyang seiring tarian angin malam sepoi ditemani sinar malam rembulan dan nyanyian jangkrik bergema Akupun melempar tanya padanya "Kapan aku melihatnya lagi?" Bungkam Tak satupun huruf bersenandung dari stomatanya

Duduk Malam

Tiada janji ku nanti tanpa ada harap sekali Duduk bertepi sungai musi Memandang air aliran suci menyibak dingin jantung hati

= POLITIK

Makan kacang goreng di pasar ikan = POLITIK Mencuci piring di swalayan = POLITIK Mengritisi penjual sandal jepit = POLITIK Berlari di tanggul sawah = POLITIK Berdiri di pinggir laut = POLITIK Mencari kayu jati = POLITIK Meniup gelembung dari sabun = POLITIK Bermain dengan anak kadal = POLITIK Memotong usus buntu = POLITIK Meletakkan sesajen di atas kuali = POLITIK Menyiram tanah basah di tengah hujan = POLITIK Garuk kepala berketombe = POLITIK Menjilat sisa sambal terasi = POLITIK Meminta uang kembalian = POLITIK Mencatat arsip penting = POLITIK Menolak disuapi pasir kering = POLITIK Memukul kucing kurus hampir mati = POLITIK Minum kuah bakso di dalam kelas = POLITIK Menampar rusa jantan = POLITIK Menarik keranjang hitam milik Bu Hitam, istri Pak Hitam, berisi dompet hitam, pensil hitam, pena hitam, kertas hitam = POLITIK Menginjak kepala bengal di atas raja bengal = POLITIK Caci maki nenek berjalan lambat = POLITIK Bapak mencintai produk dalam negeri = POLITIK Kakek membuat balon di t...