Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Wajah Kaumku

Wajah Kaumku Wajah-wajah lugu Wajah-wajah peminta Wajah-wajah pendusta Wajah-wajah pendosa Wajah-wajah malang Wajah-wajah penjilat Wajah-wajah penghisap Wajah-wajah penganiaya Wajah-wajah penjanda Wajah-wajah penduda Wajah-wajah pecundang

Wasiat

Matilah Kau! Seperti anjing hitam  yang ku gebuk tengkuknya kemarin sore di ladang gandum. Bagi kalian yang belum mati  bersiaplah menjilati darahmu sendiri karena pisauku kini sudah berubah menjadi  parang yang lebih kuat dari bantalan rel kereta  dan lebih lentur dari tahu bacem buatan Mbok Sainem. Bagi kalian yang sekarat cepat-cepatlah mati  karena lubang-lubang yang ku  gali sudah lapar  menunggu kalian memasukinya tanpa busana Cacing-cacingnyapun sudah mulai melebarkan mulut supaya ketika Kau masuk tak lama kaupun akan  menghilang bersama kotoran yang mereka keluarkan Untuk yang sudah mati jangan menangis  Cukuplah tertawa seperti  saat kau mengunyah apa  y ang ingin kau kunyah di dunia

Itu Saja

Terkadang ingin aku menguliti tubuhku Membuka tulang-tulang rusuk mengambil jantung dan hati kemudian ku lempar jauh atau  menjadikan mereka hancur Begitu saja inginku supaya tak ada kecewa  dari orang-orang yang bertingkah busuk Seharusnya mereka juga sadar

05.00

Gambar
Berjingkrak di atas peti mati Penanda girang dan kesal pada tubuh yang sudah lupa akan jasad tertinggal Gajinya tak kau beli atau kulit setengah matang itu tak kau jilati kala masih hidup Kau giat menghisapinya hingga tiada tersisa keringat bacinnya kini? Ah, Kau! Lalu untuk apa selama ini Untuk perut atau lutut Ya! Itu bukan urusanku. Tapi cobalah lihat peti mayat tempatmu berjingkrak Empunya sudah geram sejak pukul 05.00 tadi Masih kau enggan berlalu membuat tenang pada hati yang mati Sejak pukul 05.00 juga Aku dan anakmu melihatmu hanya menggeleng sedikit karena tak ingin membangunkan empunya peti Pukul 05.00 nanti Ku harap kaupun dalam peti mati bersama empunya peti mati Ah, pukul 05.00 Bukankah aku baru saja bermimpi?

Mati

Gambar
Jika nanti ia terlepas dari raga karena datangnya dia Aku ingin banyak raga yang menghampirinya Meski dengan air mata yang senantiasa tertumpah Lebih indah jika tanpa air mata Rasanya indah aku melihat  jika raga-raga itu tersenyum kala ia pergi dari ragaku Taukah kau ia yang aku maknai?