Postingan

Pawit; Kesumat

Menggebu dan terburu langkah pagi buta miliknya yang biasanya tak biasa tangannya memeluk sabit telah diasah erat mengejar memburu sampai tak berkedip lagi mata belok itu mengejar Siran lari ke sawah Kekasihnya dijual di gubuk pematang sawah dusun sebelah Siran pelakunya kakak kandung kekasihnya Harganya cukup untuk beli beras dua karung dua ribu dikali dua ribu padahal belum pernah terbuka Beda dengan di kota biasanya bisa dua puluh kali ini desa katanya; pembeli waktu penentuan harga Dulu pernah Siran menjual dengan harga sama si tetangga masih belia ranum juga manisnya digoda tapi ditambah kentang beberapa karung Bapaknya diam Saudari kandungnya = dua karung beras la da lah Siran Pawit beda nggak mau diam Sabitnya makin mengkilap "Ku sumbat lehernya Supaya matanya tak lagi menghasut supaya mulutnya tak kembali merenggut supaya pikirannya tak lagi buat kusut perut" Saya nonton di balik pohon dekat gubuk pe...

Sedang Sekarat

Apa namanya Jika nyawa sudah diangkat ke langit memisahkan dari raga dan tak ada tanda kembali nanti kecuali pada hidup yang kelak bertolak Apa namanya Saat tulang tak ada lagi aliran darah yang melekatnya dan tak ada tanda akan pulangnya selain pada hakikatnya berbau tanah hitam

Pintu Kepulangan

Selamat jiwa jiwa di pintu kepulangan telah diberi kemakmuran menyertai kesadaran atas datangnya pula pelukan supaya tak lepas dari ikatan mahasuci Anugerahlah badan terkurung sesempit apa yang pernah terjadi pada pikir dan hati terhadap datang dan perginya kesucian penganugerah Tinggal saja dibuka pintu kepulangan setelah menadah tangan lemah menghadap supaya diberi megah jiwa jawaban sudah ada pulang dengan tenang tanpa perlu sesal lagi Selamat jiwa jiwa di pintu kepulangan engkau kembali datang

Bagus Menghabisi Dosen

Tangan kirinya berlumuran darah segar. Amis dan menusuk hidung. Tangan kanan bersih. Matanya marah. Bibirnya gemetar. Dia berdiri tegap di depan ruang dosen menghadap keluar. Melihat sekeliling. Sedang yang lain hanya bisa duduk gemetar sambil berteriak ketakutan. Mahasiswa ini lalu berjalan gontai menuju toilet di sebelah ruang dosen. Berhamburanlah yang sejak tadi hanya duduk gemetar. "Apa yang baru kamu lakukan, Gus?" temannya bertanya sambil terus merapatkan badannya ke dinding yang dicat kuning itu. "Iya apa?" yang lain mendukung dengan serempak. "Gus, sadar." Bagus menjawab dengan nada ringan, "Kalian lihat saja sendiri." Tak berapa lama. Kemudian datang beberapa anggota keamanan mengacung-acungkan senjata laras pendek-panjang dan ambulans. Segera saja mereka masuk hendak menyergap Bagus. Bagus dilumpuhkan dengan timah hangat, begitu yang dirasakan Bagus. Padahal Bagus tak melawan atau mencoba kabur. Tapi tiba-tiba saja te...

Ku Baca Kau Diselembar Hati yang Lain

Ku baca dalam gelapnya jalanan tua selembaran yang ku temui di bawa seorang yang ku datangi tempo hari Kau begitu indah untuk dipuisikan dengan bait bait penuh ironi sepi baris baris mati yang lalu bergerak terdampar perlahan pada hati yang lain Diselembar berikutnya Ku temukan sudah berbeda Layaknya nanyian malam menghantarkan jiwa jiwa larut merenungi setiap detik penantian Ku lantuntankan tanpa henti kembali lagi dari bait dan huruf pertama kau benar benar tak adil mengapa harus aku yang menemukan barisan kata ini lembaran lembaran yang bernyawa ini sudah lagi aku sendiri Benar benar tanpa nyali semakin lembaran akan berakhir semakin takut ini berhenti Tak lagi kubaca kau dengan kata apa lagi kalimat sepucuk demi sepucuk bebunyian nyaring ini akhirnya tepat ini adalah yang terakhir Ku baca kau diselembar hati yang lain supaya hilang meski bukan kepunyaan

Mak

Mak, pagi ini hati kami rindu pikir pilu tangan kaku lidah kelu kaki malu mata sayu Sejak semalam tiada ganti menatap huruf dan barisannya menghampiri gelas kaca dan lembaran baru kertas Mak, tiada lagi kopi kami manis meski tiada pernah plastiknya gelas Karena semalam lagu sendu bermain tanpa gitar bujang juga tak adanya duduk gadis yang terpuja Meski begitu katanya supaya menambah kenangan biar sedikit rasa ada dalam kopi yang telah dingin terseduh seperti pagi yang disongsong penjual gorengan Mak, sempatkah nanti kami mengejar waktu yang tak berputar itu maukah barang beberapa menit saja berhenti menunggui sambil mencicipi gorengan dan kopi hitam Bi Sri Bilakah dia enggan supaya saja kami tak menyayati diri sepenggal mutiara dari bibirmu keluarkan untuk kami jual Mak, Manusia seperti kami diberi ragu yang besar juga keyakinan yang kekal tapi bisakah yang kekal setia menampar dan menghilangkan nyawa si besar kasar Andai saja kami bisa berlayar di tengah ombak Teba...

Kentut Tak Pernah Dtang Sendiri

Datang tak dijemput pulang tak diantar menjadi sebuah kalimat saat orang-orang yang suka dunia roh dan dunia percobaan ingin menghadirkan makhluk yang sebetulnya tak pernah ingin dihadirkan. Setelah hadir eksperimen dilanjutkan. Siapa yang datang? Di mana rumahmu? Bagaimana bisa jadi roh gentayangan? Tapi beda pertanyaan jika yang datang adalah angin yang berasl dari dalam tubuh. Siapa yang kentut? D ia itu yang kentut. Makan apa bisa sebau ini? Ah, memang kentut tak akan pernah datang sendiri. Ia daatang bersama nada, aroma, pertanyaan, terkadang juga pertanyaan yang mencaci. Dari mereka, yang datang bersama kentut, nada dan aroma selalu membuat orang risih, marah. Mereka juga sering merusak suasana. Bagaimana tidak, si empunya kentut terkadang malah mengeluarkannya dengan nada keras, dengan aroma yang mengganggu indra penciuman. Selain merusak suasana, ini juga terkait dengan etika. Apalagi jika sedang bersama orang banyak di dalam ruangan. Memang tidak ada undang-unda...