Bagus Menghabisi Dosen

Tangan kirinya berlumuran darah segar. Amis dan menusuk hidung. Tangan kanan bersih. Matanya marah. Bibirnya gemetar. Dia berdiri tegap di depan ruang dosen menghadap keluar. Melihat sekeliling. Sedang yang lain hanya bisa duduk gemetar sambil berteriak ketakutan.
Mahasiswa ini lalu berjalan gontai menuju toilet di sebelah ruang dosen. Berhamburanlah yang sejak tadi hanya duduk gemetar.
"Apa yang baru kamu lakukan, Gus?" temannya bertanya sambil terus merapatkan badannya ke dinding yang dicat kuning itu.
"Iya apa?" yang lain mendukung dengan serempak.
"Gus, sadar."
Bagus menjawab dengan nada ringan, "Kalian lihat saja sendiri."

Tak berapa lama. Kemudian datang beberapa anggota keamanan mengacung-acungkan senjata laras pendek-panjang dan ambulans. Segera saja mereka masuk hendak menyergap Bagus.
Bagus dilumpuhkan dengan timah hangat, begitu yang dirasakan Bagus. Padahal Bagus tak melawan atau mencoba kabur. Tapi tiba-tiba saja tempurung lutut kanannya ditembus timah itu.
"Dia (Bagus) mencoba kabur dan melawan anggota kami," begitu ujar seorang pejabat tak lama setelah penangkapan.
Di dalam ruang dosen tergeletak onggokan manusia. Bisa dihitung dengan pasti, enam. Dua dosen, dua mahasiswa pascasarjana, dan dua mahasiswa teman Bagus. Kesemuanya sudah tak sadarkan diri.
Tiba-tiba ada seorang mahasiswa, Sofia, teman dekat Bagus berteriak kencang kepada petugas.
"Mereka semua cuma pingsan. Pingsan, Pak."
Lalu petugas membawa ke luar Bagus, dengan kaki yang ditembus tempurung lututnya.
"Mana tadi mahasiswa yang melapor?"
Tiba-tiba saja Gendis menghentikan semua kegiatan mereka.
"Hari ini cukup dulu. Ingat, besok kita take lagi jam 9 pagi. Properti dan alat-alat yang lain jangan lupa."
=========================
13 April 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat