KRISAN
Tanpa tahu alasan, malam ini gadis itu berjalan sendiri menyepi. Setelah beberapa kesepian ia lewati, kesunyian mematuk wajah. Lalu duduklah ia. Di tengah hembusan angin yang menari, menyemai gulungan-gulungan sunyi. Entah. Tanda ini selalu bergelut dengan ratapan-ratapan yang enggan untuk dimengerti. Setidaknya malam ini ia diberi tanda itu, lagi. Sampai saat di tanah kering meronta untuk segera mati, laki-laki yang setengah tidak sadar bahwa kulitnya tengah terbakar terus menghindar. Menyusuri beberapa titik yang tengah kelam. Tak ada yang hidup. Tak ada yang mati. Begitupun yang mengikuti keduanya. Ini hari yang tak akan hilang sampai beberapa minggu ke depan. Krisan yang dipesan belum juga datang. Sudah dua minggu pemesanan. Krisan yang lalu sudah layu. Tapi masih rapi dibalut gelas bening di atas meja. Di sampingnya beberapa kertas yang masih bersih. Masih akan bersih sampai pukul 20.45. Nanti ia akan ada menumbuhkan beberapa sayata...