KRISAN
Tanpa tahu alasan, malam ini gadis itu
berjalan sendiri menyepi.
Setelah beberapa kesepian ia lewati,
kesunyian mematuk wajah.
Lalu duduklah ia.
Di tengah hembusan angin yang menari,
menyemai gulungan-gulungan sunyi.
Entah. Tanda ini selalu bergelut dengan
ratapan-ratapan yang enggan untuk dimengerti.
Setidaknya malam ini ia diberi tanda
itu, lagi.
Sampai saat di tanah kering meronta
untuk segera mati,
laki-laki yang setengah tidak sadar
bahwa
kulitnya tengah terbakar terus
menghindar.
Menyusuri beberapa titik yang tengah
kelam.
Tak ada yang hidup.
Tak ada yang mati.
Begitupun yang mengikuti keduanya. Ini
hari
yang tak akan hilang sampai beberapa
minggu ke depan.
Krisan yang dipesan belum juga datang.
Sudah dua minggu pemesanan. Krisan yang
lalu sudah layu.
Tapi masih rapi dibalut gelas bening di
atas meja.
Di sampingnya beberapa kertas yang masih
bersih.
Masih akan bersih sampai pukul 20.45.
Nanti ia akan ada menumbuhkan beberapa
sayatan hitam.
Lalu dibungkus kertas persegi empat.
Yang dilipat. Yang dilekat.
Antar pada Si Tuan yang diinginkan.
Belum juga ada yang baru.
Ini entah minggu yang keberapa.
Kertas persegi empat menumpuk.
Tak dibalasnya pucuk-pucuk kesunyian
itu.
Tak dibacanya pula.
Ia tahu. Gadis di sana menunggu.
Ingin ia tulis tak ada.
Namun kesanggupannya luntur.
Mungkin saja nanti ada. Nanti
diantarnya.
Nanti gelas ini akan terisi lagi.
Warnanya. Segarnya.
Juga balasannya yang diselip di tangkai
Krisan.
Komentar
Posting Komentar