Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

Kentut Tak Pernah Dtang Sendiri

Datang tak dijemput pulang tak diantar menjadi sebuah kalimat saat orang-orang yang suka dunia roh dan dunia percobaan ingin menghadirkan makhluk yang sebetulnya tak pernah ingin dihadirkan. Setelah hadir eksperimen dilanjutkan. Siapa yang datang? Di mana rumahmu? Bagaimana bisa jadi roh gentayangan? Tapi beda pertanyaan jika yang datang adalah angin yang berasl dari dalam tubuh. Siapa yang kentut? D ia itu yang kentut. Makan apa bisa sebau ini? Ah, memang kentut tak akan pernah datang sendiri. Ia daatang bersama nada, aroma, pertanyaan, terkadang juga pertanyaan yang mencaci. Dari mereka, yang datang bersama kentut, nada dan aroma selalu membuat orang risih, marah. Mereka juga sering merusak suasana. Bagaimana tidak, si empunya kentut terkadang malah mengeluarkannya dengan nada keras, dengan aroma yang mengganggu indra penciuman. Selain merusak suasana, ini juga terkait dengan etika. Apalagi jika sedang bersama orang banyak di dalam ruangan. Memang tidak ada undang-unda...

Konsisten Terhadap Pilihan

Gambar
Setiap kita yang lahir ke dunia, pasti punya cita-cita. Cita-cita adalah salah satu bentuk pilihan di dalam hidup. Memilih hidup sebagi apa adalah sebuah keharusan. Tentu setiap pilihan harus dibarengi usaha yang senantiasa konsistensi. Karena konsistensi yang terus kita perjuangkan, percaya saja, akan menjadikan diri kita sebagai individu yang memiliki karakter tersendiri dari yang lain. Terus berproses, terus berkarya, terus rendah hati, terus berjuang, karena adanya hasil adalah karena perjuangan. Terimakasih DPD IMM Lampung atas penghargan yang diberikan kepada saya dan juga teman-teman Kosakata yang selalu memeberi saya motivasi besar untuk terus mengembangkan sayap.

Untukmu, Gendis

Untukmu gadis yang tak pernah ku lihat rupa, ayu kata pakde yang diiyakan bapakmu. Gadis yang mengirimiku surat beberapa waktu lalu. Gadis yang merindui hidungku, aku sedikit bingung. Aku tak tahu dirimu tapi kau tahu hidungku. Gadis yang berminggu-minggu menunggu surat balasanku. Gadis yang disebut pakde sebagai Gendis. Namamu manis. Seperti artinya, gula. Rindu yang ada dalam hatimu, aku tahu bukan rindu yang tiba-tiba hadir tanpa kau mengerti musababnya. Tentu, rindu itu b ukan soal hidungku yang kau tulis dalam suratmu. Aku juga tahu, bukan soal garansi bapakmu untuk ku kemudian kau mengirimiku surat. Meski tak pernah aku berganti peran,pembicara pendengar-pendengar pembicara, dengan mu. Aku tahu apa yang sebetulnya ingin kau ungkapkan dalam surat itu. Gendis, gadis yang disebut manis. Saat kau baca surat yang ku tulis ini, aku sudah hampir sampai di rumahmu bersama beberapa pasukan. Bukan. Bukan menyerang untuk perang. Aku didampingi dua orang hebat, bapak dan ibu, ...

Menahan Rindu dan Ingin

Sekarang bukan hanya soal kerinduan Gendis atau garansi yang diberikan Bapak Gendis kepada Kang Bagus. Lebih dari itu semua. Gendis ingin segera duduk berdua menjadikan Kang Bagus sebagai pendamping saat Ia dan keluarganya membuat album persetujuan. Setelahnya, mengagumi kehendak Tuhan atas keluarnya onggokan tulang yang dibungkus daging dan kulit dari dalam perut yang membuncit sembilan lamanya, rata-rata begitu. Tentu sembilan bulan itu setelah pesta persetujuan antara Bapa k Gendis dan Kang Bagus di depan wakil pemerintah yang memeberi Gendis dan Bagus buku kecil berisi foto mereka berdua. Sebab akhir-akhir ini, ada tumpukan cerita bahwa ada kelahiran yang dipersoalkan. Katanya baru lima bulan ada persetujuan antara orang tua wanita dan lelaki, sudah buru-buru ke dukun bayi. Yang lebih miris, belum selesai simbok-simbok mencuci piring tamu pesta persetujuan, sudah brojol saja sampai ibu empunya pembrojolan pingsan berhari-hari. Kang Bagus juga ingin. Tapi untuk bebera...

Salam Kang Bagus untuk Gendis

Sudah sebulan surat yang dikirim Gendis kepada Kang Bagus belum ada tanda akan terbalas. Pagi saat ia sedang menyemai bayam yang di tanam bapak di depan pagar rumah, ia dikagetkan dengan suara lembut langkah kaki. "Ndis, ono salam dari Bagus. Dia bilang kamu suruh tunggu dia sebulan lagi. Nanti dia ke rumah bersama orang tuanya dengan adik perempuannya." "Iya, Pakde." jawaban Gendis singkat. Walau sebetulnya ia ingin bertanya pada Pakde Rendra ke mana surat yang dikirimnya k e Kang Bagus. Kenapa tak dibalasnya dan malah menitip salam pada Pakde Rendra. "O, iya. Suratmu sudah dibacanya. Tapi, tinta penanya ndak cukup untuk menulis." "Iya, Pakde." lagi. Kalau saja Kang Bagus tahu, Gendis sudah menulis seratus tiga surat lagi setelah seminggu Kang Bagus tak membalas surat pertamanya. Semua rindu yang tak pernah keluar dari bibir tipisnya tak cukup ditampung dalam tulisan tangan kirinya. Gendis tak ingin memberati hati Kang Bagus. Ini s...

Kang Bagus Merantau

Kalo saja dulu Kang Bagus mau bertahan setelah pergi dari persemayaman Gendis di tanah yang orang-orangnya selalu menjaganya supaya tidak jauh merantau, cerita hari ini sudah berbeda. Nasib Kang Bagus bakal sama dengan para perantau pendahulunya. Sempat sebentar Kang Bagus pergi. Tapi tak lama Gendis mengiriminya surat supaya cepat pulang. "Kang, Bapak pengen kamu cepat ke rumah. Katanya ndak perlu pergi ke kota sebelah. Cukup di sini saja, nanti Bapak yang bantu buat keperlu an sampean sembari siap-siap untuk walimah kita. Cepat pulang, Kang. Aku juga sudah rindu dengan senyum dan hidung mu yang tidak terlalu mancung." Surat itu sampai di tangan Kang Bagus seminggu setelah Gendis menulisnya. Padahal jarak kampung halaman Kang Bagus dengan kota perantauan tak sampai 1 jam jika mengendarai motor keluaran terbaru. Semalam suntuk Kang Bagus ndak bisa tidur. Kopi cap kelingking sudah satu bungkus ia habiskan. Bukan soal rindunya Gendis pada hidungnya tapi kata-ka...

IPM MA Muhammadiyah Purbolinggo Gelar Training Motivasi

Gambar
Bandar Lampung – Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Madrasah Aliyah Muhammadiyah Purbolinggo menggelar training motivasi dan bedah buku di Balai Desa Taanjung Intan, Minggu (13/3). Training motivasi yang bertema ‘Being Muslim Super Star’ ini adalah upaya mewujudkan tujuan IPM. PR IPM MA Muhammadiyah Purbolinggo bersama Ustazah Dewi Mustika el Mizar Acara yang langka digelar oleh organisasi kepelajaran di Purbolinggo ini mendapat antusias yang luar biasa. Tercatat ada 266 peserta dari berbagai sekolah menengah yang ada di Purbolingo-Waybungur yang menghadiri kegiatan ini. Dalam pantauan, acara yang dihadiri oleh Sekretaris Umum PW IPM Provinsi Lampung, Amiruddin Awalin berlangsung sangat meriah. Ketua Umum PR IPM MA Muhammadiyah Purbolinggo, Eris, mengatakan acara besar perdana organisasinya ini tidak hanya memberi motivasi pelajar Muslim untuk menjadi Muslim yang super star. Namun, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi organisasi pelajar ya...