Menahan Rindu dan Ingin

Sekarang bukan hanya soal kerinduan Gendis atau garansi yang diberikan Bapak Gendis kepada Kang Bagus. Lebih dari itu semua. Gendis ingin segera duduk berdua menjadikan Kang Bagus sebagai pendamping saat Ia dan keluarganya membuat album persetujuan. Setelahnya, mengagumi kehendak Tuhan atas keluarnya onggokan tulang yang dibungkus daging dan kulit dari dalam perut yang membuncit sembilan lamanya, rata-rata begitu. Tentu sembilan bulan itu setelah pesta persetujuan antara Bapak Gendis dan Kang Bagus di depan wakil pemerintah yang memeberi Gendis dan Bagus buku kecil berisi foto mereka berdua. Sebab akhir-akhir ini, ada tumpukan cerita bahwa ada kelahiran yang dipersoalkan. Katanya baru lima bulan ada persetujuan antara orang tua wanita dan lelaki, sudah buru-buru ke dukun bayi. Yang lebih miris, belum selesai simbok-simbok mencuci piring tamu pesta persetujuan, sudah brojol saja sampai ibu empunya pembrojolan pingsan berhari-hari.
Kang Bagus juga ingin. Tapi untuk beberapa hari ini, ia harus selesaikan keinginannya sebelum resmi melepas masa bujangnya. Merawat anak-anak yang ditemuinya di perempatan-perempatan, lampu-lampu lalu lintas, atau yang nylendot di pangguannya saat ia makan lesehan di depan ruko-ruko yang sudah tutup dimalam hari bersama teman dan kawan.
"Bukan tak mau aku menulis balasan. Aku takut nanti kau dan aku tak berhenti menulis kata-kata manis dan nantinya akan habis. Aku simpan dulu kata-kata manis untukmu setelah persetujuanku dengan bapakmu." dalam hati risaunya, Kang Bagus juga rindu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen