Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Jilat

Banyak yang menjilat  kantong buat perutnya Banyak yang dijilat  kantongnya buat perut orang lain Penjilat kadang dijilat yang dijilat sering menjilat

Terima Kasih

Terima kasih sudah melumpuhkan kakiku dan membuatku tak lagi mampu membuat langkah-langkah kecil untuk mengejar mimpi-mimpi yang selama ini selalu ingin ku dapatkan. Terima kasih sudah memotong tanganku yang selama ini ku gunakan untuk meraih tumpukan nyawa yang masih melayang dan tak kenal arah. Terima kasih sudah membobol jantung dan hatiku yang membuatku tak dapat membuat lubang-lubang kecil yang membawaku pada sebuah ayunan hidup di muara yang ku benturkan dengan pangkal lauthitam di ujung benua kuning.

Bartugi Ngoceh

Masalah di sini banyak. Tapi bagi Karduman dan Bartugi hanya dua masalah yang sangat penting. Listrik dan jalan berlubang. Sejak Karduman dan Bartugi kelas V sekolah dasar pemerintah berjanji akan memasukkan aliran listrik ke desa mereka. Tapi sampai anak mereka berumur lima tahun masih saja janji itu belum ada di pelupuk mata. warga desa harus iuran untuk membeli diesel dan bahan bakar. Supaya malam mereka tak gelap. Jalanan desa juga tak seperti hutan. Itupun hanya 6 jam aliran listrik mengalir ke rumah-rumah warga. Dari pukul 6 sore sampai dengan 12 malam. Kalau ada gangguan, terkadang pukul 11 malam sudah mati. Setiap bulan tak kurang kantong mereka memuntahkan Rp 83.000. Dua lampu neon, satu pesawat televisi, satu setrika. Suatu malam Bartugi dan Karduman bertemu di perempatan ujung desa. Duduk di bawah sorot lampu neon. Sambil menegak kopi panas buatan warga untuk yang jaga malam.  "Memangnya tak ada cara lain, Man?" "Ada, Bar. Tapi tidak mungkin kita melakukan ...

Harus Apa?

Gambar
Orang di luar sering bilang, "Mahasiswa adalah kaum intelektual", terkadang kita sendiri juga berkata dan sepakat demikian. Saya kira kitapun sepakat bahwa tidak hanya semata-mata karena nilai kita kuliah tetapi pengetahuan yang lebih yang kita inginkan. Pada konteks saat ini, kita lebih mementingkan nilai yang entah dipandang dari sudut mana ia akan memiliki harga jual mahal ketimbang pengetahuan  dan kemampuan. Pada saat nilai A=100, orang akan selalu berpikiran bahwa nilai itu didapat setara dengan pengetahuan dan kemampuan. Benarkah demikian? Siapa yang akan menjawab benar dan siapa yang akan menjawab tidak benar? Proses dan hasil sama-sama penting. Namun, jika hasil yang didapat sesuai dengan proses yang dilakukan dan dilewati, kenapa muncul berbagai keluhan dan protes? Tidak terima mendapat nilai kecil. Setiap kali ada pertanyaan, "Kenapa kamu rajin kuliah?". Banyak jawaban "Biar saya punya pengetahuan dan mengasah kemampuan saya tentunya". Apa penge...

Ini Dini Hari

Percakapan dengan Susan Ini dini hari sudah Bahkan mata tak tahu barang kali Tak peduli Jari kecil di ujung Layar Mengusap, menempel huruf Mengembang jadi Makna diinginkan tak diinginkan Mungkin belum lelah Mungkin pula ingin ditemani Waktu terus berputar yang lain tetap meniti Aku tahu mereka menutup lupa sengaja untuk lupa aku tetap meniti walau tanpa wangi Sepertinya bukan sengaja Tapi waktunya Egomu Kuatkan Tak serupa memang Tapi pasti akan ada Meski tak lebih

Bunuh Diri

Gambar
Aku ingin, melihatmu bergantung pada tali Terikat antara atap-lantai Wajah tentu berubah seiring keluarnya lidah tanpa meronta, pasrah Dua bola hitam putih melotot menunjuk kuatnya otot Di ujung sengal yang kian raib Di sudut pandang, emakmu teriak melontar ucap, menitik kasih pipinya merah, juga hidung Bapakmu hanya mampu melepas tali Terpandanglah demikian tetap Sembari memerah mata Kau telah tiada sejak pagi hanya karena maki Yang terlontar

Karena Gerimis

Karena gerimis ku pahami Gemuruh itu tak kalah karena gerimis Ku mengerti Jatuhnya tepat dan berbekas Karena gerimis Aku tak sempat merekam jejak Karena gerimis, pula Aku tak dapat menatap jauh langkah kaki Pada gerimis ku bertanya "Siapa membawa kemari?" Sembari menutup jendela senja

Kepada Z.E.R.

Gambar
Malam ini, sama Bak malam malam sebelum ini tiga jariku mengapit mengayun tinta menggores putih membawa hitam untuk melukis ucap Rindu seperti arang terbakar tak jua abu kangen seperti angin berhembus lalu menjauh Tiga jariku mengapit Mengayun tinta menggores putih membawa hitam untuk melukis ucap Dan waktu benar rapuh ku layangkan ini Padamu

Bicara Cinta

Malam ini kita berdua duduk di atas keramik sambil menyibak dan memercik air Berbicara tentang cinta

Adanya Kala Pagi

Gambar
Tiap ku bertanya Jawabmu tak kurang Tiap ku melangkah Langkahmu tak kalah jauh Tiap ku tertunduk Wajahmu menengadah gagah Tiap ku tertawa Kau tersenyum makna Menilik pandang mata di sudut merah Otak bringas sudah keluar dari sarang garang Kalau tak ada tak pula dicarinya pun tak akan ada berita Adanya kala pagi Saat terik lilin kecil melewati rawa sunyi Menhela nafas dan membelai kulit Faktanya dua tangan sudah di depan