Bartugi Ngoceh
Masalah di sini banyak. Tapi bagi Karduman dan Bartugi hanya dua masalah yang sangat penting. Listrik dan jalan berlubang. Sejak Karduman dan Bartugi kelas V sekolah dasar pemerintah berjanji akan memasukkan aliran listrik ke desa mereka. Tapi sampai anak mereka berumur lima tahun masih saja janji itu belum ada di pelupuk mata. warga desa harus iuran untuk membeli diesel dan bahan bakar. Supaya malam mereka tak gelap. Jalanan desa juga tak seperti hutan. Itupun hanya 6 jam aliran listrik mengalir ke rumah-rumah warga. Dari pukul 6 sore sampai dengan 12 malam. Kalau ada gangguan, terkadang pukul 11 malam sudah mati. Setiap bulan tak kurang kantong mereka memuntahkan Rp 83.000. Dua lampu neon, satu pesawat televisi, satu setrika.
Suatu malam Bartugi dan Karduman bertemu di perempatan ujung desa. Duduk di bawah sorot lampu neon. Sambil menegak kopi panas buatan warga untuk yang jaga malam.
"Memangnya tak ada cara lain, Man?"
"Ada, Bar. Tapi tidak mungkin kita melakukan itu. Kita ini siapa, Bar. Lah, wong buat beli daun singkong saja yang harganya 500, kita nggak bisa, apa lagi mau mengganti aspal jalan itu." Karduman hanya bisa mengelus dada, sedang matanya mulai sayu tak bergairah kala melihat Bartugi yang bersemangat membetulkan jalan.
"Paling tidak kita sedikit berusaha, Man. Daripada membiarkan orang-orang bergelimpangan ketika melewati jalan ini. Seperti kemarin. Mbok Darsami jatuh dan tak sadarkan diri sampai 2 jam. Kau ingat, kan, Man?"
"Iya, Bar. Tapi..."
"Sudah! Kita timbun saja dengan tanah. Biar orang-orang berpangkat itu membangun jalan dan bangunan untuknya sendiri. Paling-paling juga nanti bangunannya disita."
"Ya, baiklah."
Beberapa hari kemudian mereka bertemu kembali. di tangan mereka sudah ada cangkul dan karung. Tiba di jalan berlubang itu, punggung mereka mulai membungkuk. Banyak galian. keringat mulai tak sabar mengalir. Basahlah beberapa titik tubuh mereka. Tak lama lubang-lubang itu sudah tertutup, meski hanya dengan tanah dari pinggiran alan. Bartugi mengusap peluh di dahinya. Lalu dilihatnya jalanan. Ternyata masih banyak lubang yang terkuak.
"Lihat itu, Man!"
"Apa lagi, Bar?" tanya Karduman.
"Masih banyak jalan yang berlubang."
"Sudahlah. Ini saja yang kita tutup. Itu biar urusan orang-orang yang sok mampu menutup lubang jalan. Kita cukup ini saja." Karduman berlalu.
Suatu malam Bartugi dan Karduman bertemu di perempatan ujung desa. Duduk di bawah sorot lampu neon. Sambil menegak kopi panas buatan warga untuk yang jaga malam.
"Memangnya tak ada cara lain, Man?"
"Ada, Bar. Tapi tidak mungkin kita melakukan itu. Kita ini siapa, Bar. Lah, wong buat beli daun singkong saja yang harganya 500, kita nggak bisa, apa lagi mau mengganti aspal jalan itu." Karduman hanya bisa mengelus dada, sedang matanya mulai sayu tak bergairah kala melihat Bartugi yang bersemangat membetulkan jalan.
"Paling tidak kita sedikit berusaha, Man. Daripada membiarkan orang-orang bergelimpangan ketika melewati jalan ini. Seperti kemarin. Mbok Darsami jatuh dan tak sadarkan diri sampai 2 jam. Kau ingat, kan, Man?"
"Iya, Bar. Tapi..."
"Sudah! Kita timbun saja dengan tanah. Biar orang-orang berpangkat itu membangun jalan dan bangunan untuknya sendiri. Paling-paling juga nanti bangunannya disita."
"Ya, baiklah."
Beberapa hari kemudian mereka bertemu kembali. di tangan mereka sudah ada cangkul dan karung. Tiba di jalan berlubang itu, punggung mereka mulai membungkuk. Banyak galian. keringat mulai tak sabar mengalir. Basahlah beberapa titik tubuh mereka. Tak lama lubang-lubang itu sudah tertutup, meski hanya dengan tanah dari pinggiran alan. Bartugi mengusap peluh di dahinya. Lalu dilihatnya jalanan. Ternyata masih banyak lubang yang terkuak.
"Lihat itu, Man!"
"Apa lagi, Bar?" tanya Karduman.
"Masih banyak jalan yang berlubang."
"Sudahlah. Ini saja yang kita tutup. Itu biar urusan orang-orang yang sok mampu menutup lubang jalan. Kita cukup ini saja." Karduman berlalu.
Komentar
Posting Komentar