Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

Versus

Terpandang wajah kusam nan kelam  Rambut panjang tak terkat terurai  lusuh tak tersentuh tetesan hujan  Tubuh kering  bak tanah tandus  yang tak ditumbuhi tanaman Satu sandang siang malam  Trotoar kecil jadi papan  Angin malam mendekap jadikan tubuh kering menggigil Jauh kaki melangkah Butiran beras tetesan air tak ditemui Butiran peluh penuhi wajah lusuh Debu terbang hinggapi tubuh Tangan menjulur Kening menunduk Mereka palingkan wajah mencibir bibir merekah duduk merdeka di atas tubuh kering seraya mengakak Lapar tak jadikan iba Haus tak buat hati tersentuh Tapi lagi-lagi duduk merdeka dan mengakak

Nyanyian Anak Palestina

Kala mentari terjaga tersenyum bangga dengan sinarnya Aku lebih dahulu bersenjata dengan kening berikat bendera bermodal darah harta dan nyawa Demi satu nama Kala gedung menyongsong mentari Aku tetap tegap berdiri meski penuh peluh dahaga tak terhirau lemas malas ku remas remuk Demi satu nama Mentari mulai lenyap dan malam mulai terkantuk Tapi Aku tetap tegap Tak peduli lawan menyerang Tak takut rudal mengena Gelak tawa lawan tak terhirau Demi satu nama PALESTINA Bandarlampung, 29 April 2012

Queen Artha

Rasaku terdampar di pantai Berteman belaian angin sepoi Bersahabat deretan gubuk ilalang Menari bersama ayunan pepohonan Bercengkrama dengan sampan Amukan ombak perlahan mendekatiku menerjang karang penghadang lalu lantunkan lagu merdu Pasir-pasirpun berjabat mengenalku Karang berbisik lirih Kerang-kerang menatapku lekat bibir mereka bergerak berucap Tapi entah apa Cepat ungkapkan jangan tunggu nanti apalagi esok Sentak mereka padaku ooo..... Pesawaran, 7 Oktober 2012

Kesal

Dentum knalpot menggelegar sepanjang hari Sengatan listrik sebentarpun tak wafat Sampah berkeliaran bebaskan diri Belum lagi pepohonan ditebas bringas Udarapun sampai terbatuk Bandarlampung, 11 Oktober 2012

Pertanyaan Murah

Dunia bilang kau kuat tak takut senjata apalagi meriam kecil milik tentara Kau tak pernah lari Meski tubuh tegap menghadang berseragam coklat-coklat memegang tongkat siap menghantam Peringatan menggema jeritmu kalahkannya Bergandeng dengan sesama Teriak semangat bersama Tapi, ada yang bilang Kau lemah Kala mereka bertanya padamu Siapa Kamu? Pembela rakyat? Pembela diri sendiri? Pembasmi tikus berdasi? Atau hanya seekor itik? Kau tak berani menjawab dengan lantang Kau kalah dengan pertanyaan murah Bandarlampung, 2 Oktober 2012

Tahukah Kamu

Tahukah kamu? Sepi menggerogotiku menghantam benakku menyayat khayalku menusuk citaku membunuh rasaku Lalu pergi dengan langkah terhuyung Tanpa menoleh Tak peduli pada mata yang berkaca teteskan cairan pilu Tahukah kamu? Pedih merayuku membelai riaku memeluk bahagiaku mencium senyumku Lalu lenyap tak terlihat Tahukah kamu? Aku telah melontar kata membuang asa Lalu, menutup mata selamanya Bandarlampung, 17 Oktober 2012

Ku Panggil Jiwamu

Kau singkap selimut damaimu tutupi kepedihan yang melanda hatiku Senyummu membawaku terbang kepada angan tuk slalu cintaimu Kupanggil jiwamu yang meringkuk di dasar hatiku tuk cintaiku

TRAGEDI TERKENANG

Kawan, sadarkah kau Setan menjemputmu Merayu, membawa dendam darah beku Memberi benci pada cinta Lawan jadi kawan Kawan jadi lawan Lawan tak kau hadang Kawan kau serang Pedang menjurus, menghunus Memutus denyut kehidupan Tulang bergelimpangan Nyawa melayang Mengawang Berlayar di atas tangan Berlari ke pangkuan Tragedi terkenang Bersembunyi di balik memori Merasuk jari Merusak generasi Bandarlampung, Oktober 2012

TAK JELAS

Kau adalah anjing hitam Yang menggonggong Di tengah lenguhan ribuan lembu Kau adalah singa Yang mengaung Di dasar samudera biru Kau adalah ayam Yang berkokok Bersama bangkitnya fajar Di tempat yang tak bercelah Kau adalah burung pipit Yang hinggap di dahan Lalu berkicau Dengan paruh tersembat bebijian Buatku Itulah suaramu Tak jelas terdengar Bandarlampung, 24 Oktober 2012

Gadis Tua di Ujung Senja

  Senja masih enggan untuk tenggelam. Ia menunggu burung-burung kembali dari perantauan, agar burung-burung tak menemui gelap katanya. Sampai kapan ia akan menunggu. Ribuan burung yang merantau tadi pagi, baru setengah dari mereka yang kembali, sedang yang lain mungkin masih dalam perjalanan atau masih asik bercumbu di perantauan. Samar-samar ku lihat bayangan hitam di ujung jalan. Duduk di bawah pohon tanpa siapapun berteman dengannya. Wanita. Wanita itu tak pernah ku lihat sebelumnya. Rambutnya hitam kelam, tapi kulit wajahnya mulai membentuk gelombang kisut. Saat ku mulai dekat dengannya, dia langsung menyebut namanya. Yu Margaret. Begitulah dia menyebut dirinya. Berasal dari negeri antah—berantah, dengan sandal kanan yang sudah mulai usang. “Aku tahu kau sedang memikirkan seorang gadis. Namanya Putri. Bahkan saat kau merumuskan soal UN kemarin, kepalamu diisi penuh dengan nama dan kata-katanya” gadis tua itu tahu keadaanku saat ini. Darimana dia tahu? Baru saja ber...

SURAT UNTUK SAUDARA

Gambar
Saudara, delapan tahun genap sudah kau duduk Melipat kaki di atas kursi kuasa Kita masih kusam, kelam Menangis dalam tawa Duka di antara suka Miskin di atas kaya Diam menindas sengsara Takkah kau dengar? Jerit mereka yang kering Mereka yang tak mengunyah Yang tak menelan Tak pula meneguk Apalagi membuangnya Saudaraku, cobalah kau lihat Mereka tiba sebelum kau terjaga Pesta kerja dimulai Berkeringat, legam karena terik Terbungkus tanah hitam Hingga tangan kekar berair Dan punggung terbungkuk Lalu beranjak saat kau terlelap Dibuai malam, berkhayal Saudara, surat ini datang dari mereka Bacalah cerita mereka  walau sekelebat menit “Kami terlelap tak bertikar, bergoyang tak berirama, Bersandar tak berdinding, Terduduk tak berkursi” Bagaimana balasmu, saudara? Diam? Senyum? Mencibir? Berpaling? Atau mengabaikan? Balaslah! 

Hilangnya Malaikatku

Gambar
Tentangku. Tentang seorang anak  yang telah lama merangkai cerita hidup bersama seorang malaikat. Dengan cat yang ku torehkan dengan berbagai kuas di atas kanvas putih suci. Kanvaspun penuh lukisan kehidupan yang indah, meskipun ada sedikit noda cat yang tak pernah diinginkan menetes di kanvas itu. Emak adalah malaikatku. Aku dan Emak selalu berdua. Ya, hanya berdua. Tak ada Bapak, sosok pemimpin dalam keluarga. ***** Malam ini tak ada kemurungan di wajah sang kubah surya. Bulan dan bintang berebut tampakkan senyum paling bersinar. Aku termenung di balkon rumah sederhana. Meneliti satu demi satu bintang yang bertaburan. Mencari bintang yang biasanya berada tepat di atas balkon ini. Sekian lama Aku mencari, bintang itu tak kutemukan juga. Mungkin ia sedang berkelana ke balkon-balkon yang lain atau mungkin belum beranjak dari peristirahatannya. Saat kakiku hendak beranjak, tiba tiba…….. Blaarrr! Dentuman guntur dan kilatan cahaya mengagetkanku. Aku menoleh, melirik kubah s...

Elegi Tanah Lampung

Gambar
Saat Langit tak gelap Hujan tak terhisap Burungpun terus bersayap Namun, nadi melempar bercak merah Nodai wajah Aliri tanah Kala gading kehilangan gajah Cula kehilangan badak Kuku kehilangan jari Bulu kehilangan kulit Nafaspun kehilangan nyawa Kubah biru berkabung Akar berliur Bungapun bersemi, di puncak pulau semayam Bandarlampung, 2 November 2012, 20.50

Kapan

Gambar
Aku tahu kapan kau dijajah Dilumat bom Dihunus laras panjang Digerus meriam Diremas perbudakan Jepang Diiris pembodohan Belanda Aku tahu kapan kau tak berdaya Digulung bencana Dipeluk kemiskinan Diinjak keserakahan Ditendang kemakmuran Tapi, aku tak tahu kapan kau merdeka Diseret gelombang ketenangan Dihempas badai kedamaian Disapu senyum kebahagiaan Jadi, kapan semua itu terjadi? Dahulu? Atau bahkan sekarang? Ahh! Entahlah. Mungkin kau akan terus sembunyikan ini Dari semua penanya yang kau temui Juga aku 24 Oktober 2012, 04:18

Akhir

Gambar
"Maaf" Lalu langkah berderap pasti bayangan lenyap saat mata terkedip Tak ada senyum, toleh, atau lambaian tangan Pandangpun samar Berkaca Tetesan mengalir Menumbuhkan rasa yang bersemayam di kaki langit Berakhir Terputus ucap kata dan tak lagi ada Lampung Tengah, 31-12-2012

Luput

Gambar
Sempat ada, dulu Tanya yang juga sebetulnya luput lebihkah dari selama ini Datanglah kaki padanya memungut jejak jejak Mengamati Menggali titik titik Memutar balik Memang lebih, benar Tapi tak untuk atas atau sebelah Bawahlah adanya Dapat pembenaran Atas tanya yang dulu

Aku Kembali

Gambar
Malam ini dalam Pelukan langit yang hujan Tertiup kata yang pernah Sempat ku lantun padamu Kaca berair, tembus pandang yang mulai tak tahu arah aku kembali pada keindahan Lama menyiksa Tak bersua Langkah ini licin Terseok Beban ratap Makin jadi Tanpa ada Kenang, terlepas Aku kembali, pada Indahmu