SURAT UNTUK SAUDARA


Saudara, delapan tahun genap sudah kau duduk
Melipat kaki di atas kursi kuasa
Kita masih kusam, kelam
Menangis dalam tawa
Duka di antara suka
Miskin di atas kaya
Diam menindas sengsara

Takkah kau dengar?
Jerit mereka yang kering
Mereka yang tak mengunyah
Yang tak menelan
Tak pula meneguk
Apalagi membuangnya

Saudaraku, cobalah kau lihat
Mereka tiba sebelum kau terjaga
Pesta kerja dimulai
Berkeringat, legam karena terik
Terbungkus tanah hitam
Hingga tangan kekar berair
Dan punggung terbungkuk
Lalu beranjak saat kau terlelap
Dibuai malam, berkhayal

Saudara, surat ini datang dari mereka
Bacalah cerita mereka  walau sekelebat menit
“Kami terlelap tak bertikar,
bergoyang tak berirama,
Bersandar tak berdinding,
Terduduk tak berkursi”

Bagaimana balasmu, saudara?
Diam?
Senyum?
Mencibir?
Berpaling?
Atau mengabaikan?

Balaslah! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen