Sekilas di antara meja saat pagi tadi Sendok dan wajahnya beradu sama Gelas-gelas kecil tak lagi sama isinya barangkali sudah satu tahun tak di atas bangku Maka rupanya begitu mirip penadah di antara lampu merah, kuning, dan hijau Saat meriahnya kerupuk-kerupuk renyah disantap Sayur asam tak juga dihidangkan Baru saja sambal di atas tertuang Sudah saja waktu tak bersahabat 07.20, segera berangkat Kalau saja aku adalah meja makan, ini yang ku pahami Kalau saja meja makan adalah aku Teriakannya lebih tak terdengar lagi
Di luar memang lebat, hujannya berlubang jalanan berair masih juga ada peneduh, gedung-gedung payung-payung, warung-warung Jalanmu bisa sedikit-sedikit, sebentar-sebentar Di sana memang tidak ada kertas putih, kosong tentu ada celah di balik kata Pengisinya adalah kau Penuntunnya masihlah kau Pintu di rumah Presiden memang tertutup Kau juga pelompat pagar bukan? Pastinya sudah biasa untuk ini Penjaga peminum kopi atau susu saat malam nanti Lalu apa lagi?
Ketika membuka quote "Pelajar dan Berita" akan lebih banyak ditemukan berita tentang penyimpangan sosial oleh pelajar, baik tawuran, pencurian, melanggar lalu lintas, pemerkosaan, atau pembunuhan, dibandingkan dengan prestasi-prestasi yang diraih pelajar. Ironi memang, seharusnya hal-hal positiflah yang banyak ditonjolkan dibandingkan hal-hal negatif. Tapi saat ini kita berada tempat yang lebih senang mempertontonkan-menonton kenegatifan itu.
Konferensi Pimpinan Daerah PW IPM Lampung menjadi sebuah langkah evaluasi bagi PW IPM Lampung pada setengah periode atau satu tahun pertama periode 2012-2014. Konpida kali ini dihadiri oleh PP IPM yang diwakili Warnoto Sekretaris Bidang Organisasi PP IPM.
Foto Bersama PP IPM, PW DIY, PW DKI Jakarta, PW Sultra, PW Jatim, PW Jateng, PW Jabar, PW Sumut, PW Papua, PW Sulut, dll. Kegiatan Seminar dan Lokakarya Nasional Sistem Perkaderan IPM di SMP Muhammadiyah 12 Gresik Kota Baru, Jawa Timur.
Kegiatan Seminar dan Lokakarya Nasional Sistem Perkaderan Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang pertama di Madrasah Mualimin Yogyakarta. Hadir sebagai perwakilan PW IPM Lampung karena sebagai Ketua Bidang Perkaderan PW IPM Lampung. Foto bersama PP IPM, PR IPM Mualimin & Mualimat Yogyakarta, PW IPM Jabar, PW IPM Jatim, PW IPM DKI Jakarta, PW IPM DI Yogyakarta, PW IPM Jawa Tengah, PW IPM Sumatera Utara, PW IPM Sulawesi Utara, PW IPM Kalimantan Barat, DLL.
Ini moment ketika membacakan puisi ciptaan sendiri di depan peserta Jambore ASBO, kawan-kawan PW IPM Lampung, dan warga Tangkit Batu, Natar, setelah menjadi juri perlombaan cipta dan baca puisi pada Jambore ASBO PW IPM Lampung 2012.
Malam tak selalu sama. Tapi malam punya gaya tersendiri untuk dikenang dan mengenang malam-malam sebelum ia datang. Malam yang ini juga. Semestinya ia sudah pulang kepada tidur panjang pemuda kurus. Ia membuat mata pemuda kurus ini tak mampu menyelipkan matanya di sudut yang lain. Layar yang terkembang di depan wajahnya harus dipelototinya sambil kesepuluh jari tangannya mengelus lembut huruf demi huruf yang dicetak di keyboard . Matanya dipaksa melek. Otaknya di putar-putar. Secangkir kopi yang mulai kering menjadi teman setia sejak pikirannya digelayuti oleh keinginannya mengucap terimakasih pada wanita hebat—terhebat bahkan baginya—yang sedang berdoa dalam keletihan dan susahnya. Karpet hijau tempatnya melipat lutut. Lagu Sigma mendegupkan jiwanya tanpa sedikitpun berusaha berhenti. Baru beberapa paragraph asing yang ia hasilkan. Otaknya masih terus diputar-putar. Sebentar ia berhenti. Tidak. Dia masih berkutat dengan otak—jari—mata menuju waktu yang semakin menghimpit. Dia...
Telah akan ada deklarasi Bahwa beberapa akan lunglai Semut berjanji dia tak lagi mengangkat yang lebih dari kecil tubuhnya Sapi lupa bahwa dirinya memamah biak Lalu dengan segera menelan daging yang baru diterimanya Kambing tak ingin lagi miliki jenggot tebal di dagunya Dan diserahkannya pada belalang yang sudah rapuh Di depan sana Kau tentu melihatnya meski jauh Ada beberapa singa yang lapar akan daun bambu Tentu pula kau tahu Mereka mengambilnya dari panda di dalam kandang kumuh itu Satu lagi di belakang sana Si gajah sudah lelah menjadi besar Lalu ia mengajak kutu berjalan beriringan Hampir lupa Di kanan kiri Nyamuk berganti profesi Sekarang ia mematuk biji padi di sawah Dan belut tak licin Karena dirinya sudah berdebu ...
Kali waktu Maukah kau membaca setelah aku menulisnya Saat aku membaca akankah kau mendengarnya Ataukah kau menulisnya sedang aku sebagai pembaca Pun kau yang membaca lalu aku mendengarnya Bila ada kali waktu
Pada senja terjerat perih Entah mengapa luka yang tertatih Pada hari hari sebelum malam langit langit jingga daun daun menguning Seperti wajah wajah kelam menunggu berakhir senja burung pulang dengan suara melengking Surat telah selesai diantar untuk penghuni sanubari tanpa rasa berdebar surat belum juga pada penanti semoga yang ini sampai bersama angin utara untuk yang berujung pantai senja
Terkadang aku lebih memilih menjadi pembaca Binatang Jalang, Hujan Juni, Mas Kumambang Dari pada harus menulis Merangkai otak otak Dan masih juga tak dipahami Ini judul jadul
Sayatan tomat di atas meja makan Menandakan ia sudah pergi Sejak tadi Sebelum aku terbangun Pintu depan tak terkunci Ia pergi Bersama laki laki Yang ku panggil banci
Yang berganti wajah Yang berganti tubuh Yang berganti rambut Yang berganti kelamin Yang sejenis; Yang sebelumnya tak manis Yang juga tak tebal alis Di pasar Tengah, malam