Postingan populer dari blog ini
Pawit; Kesumat
Menggebu dan terburu langkah pagi buta miliknya yang biasanya tak biasa tangannya memeluk sabit telah diasah erat mengejar memburu sampai tak berkedip lagi mata belok itu mengejar Siran lari ke sawah Kekasihnya dijual di gubuk pematang sawah dusun sebelah Siran pelakunya kakak kandung kekasihnya Harganya cukup untuk beli beras dua karung dua ribu dikali dua ribu padahal belum pernah terbuka Beda dengan di kota biasanya bisa dua puluh kali ini desa katanya; pembeli waktu penentuan harga Dulu pernah Siran menjual dengan harga sama si tetangga masih belia ranum juga manisnya digoda tapi ditambah kentang beberapa karung Bapaknya diam Saudari kandungnya = dua karung beras la da lah Siran Pawit beda nggak mau diam Sabitnya makin mengkilap "Ku sumbat lehernya Supaya matanya tak lagi menghasut supaya mulutnya tak kembali merenggut supaya pikirannya tak lagi buat kusut perut" Saya nonton di balik pohon dekat gubuk pe...
Bagus Menghabisi Dosen
Tangan kirinya berlumuran darah segar. Amis dan menusuk hidung. Tangan kanan bersih. Matanya marah. Bibirnya gemetar. Dia berdiri tegap di depan ruang dosen menghadap keluar. Melihat sekeliling. Sedang yang lain hanya bisa duduk gemetar sambil berteriak ketakutan. Mahasiswa ini lalu berjalan gontai menuju toilet di sebelah ruang dosen. Berhamburanlah yang sejak tadi hanya duduk gemetar. "Apa yang baru kamu lakukan, Gus?" temannya bertanya sambil terus merapatkan badannya ke dinding yang dicat kuning itu. "Iya apa?" yang lain mendukung dengan serempak. "Gus, sadar." Bagus menjawab dengan nada ringan, "Kalian lihat saja sendiri." Tak berapa lama. Kemudian datang beberapa anggota keamanan mengacung-acungkan senjata laras pendek-panjang dan ambulans. Segera saja mereka masuk hendak menyergap Bagus. Bagus dilumpuhkan dengan timah hangat, begitu yang dirasakan Bagus. Padahal Bagus tak melawan atau mencoba kabur. Tapi tiba-tiba saja te...
Komentar
Posting Komentar