Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Ku Baca Kau Diselembar Hati yang Lain

Ku baca dalam gelapnya jalanan tua selembaran yang ku temui di bawa seorang yang ku datangi tempo hari Kau begitu indah untuk dipuisikan dengan bait bait penuh ironi sepi baris baris mati yang lalu bergerak terdampar perlahan pada hati yang lain Diselembar berikutnya Ku temukan sudah berbeda Layaknya nanyian malam menghantarkan jiwa jiwa larut merenungi setiap detik penantian Ku lantuntankan tanpa henti kembali lagi dari bait dan huruf pertama kau benar benar tak adil mengapa harus aku yang menemukan barisan kata ini lembaran lembaran yang bernyawa ini sudah lagi aku sendiri Benar benar tanpa nyali semakin lembaran akan berakhir semakin takut ini berhenti Tak lagi kubaca kau dengan kata apa lagi kalimat sepucuk demi sepucuk bebunyian nyaring ini akhirnya tepat ini adalah yang terakhir Ku baca kau diselembar hati yang lain supaya hilang meski bukan kepunyaan

Mak

Mak, pagi ini hati kami rindu pikir pilu tangan kaku lidah kelu kaki malu mata sayu Sejak semalam tiada ganti menatap huruf dan barisannya menghampiri gelas kaca dan lembaran baru kertas Mak, tiada lagi kopi kami manis meski tiada pernah plastiknya gelas Karena semalam lagu sendu bermain tanpa gitar bujang juga tak adanya duduk gadis yang terpuja Meski begitu katanya supaya menambah kenangan biar sedikit rasa ada dalam kopi yang telah dingin terseduh seperti pagi yang disongsong penjual gorengan Mak, sempatkah nanti kami mengejar waktu yang tak berputar itu maukah barang beberapa menit saja berhenti menunggui sambil mencicipi gorengan dan kopi hitam Bi Sri Bilakah dia enggan supaya saja kami tak menyayati diri sepenggal mutiara dari bibirmu keluarkan untuk kami jual Mak, Manusia seperti kami diberi ragu yang besar juga keyakinan yang kekal tapi bisakah yang kekal setia menampar dan menghilangkan nyawa si besar kasar Andai saja kami bisa berlayar di tengah ombak Teba...