Ku Baca Kau Diselembar Hati yang Lain

Ku baca dalam gelapnya jalanan tua
selembaran yang ku temui di bawa
seorang yang ku datangi tempo hari
Kau begitu indah untuk dipuisikan
dengan bait bait penuh ironi sepi
baris baris mati yang lalu bergerak
terdampar perlahan pada hati
yang lain
Diselembar berikutnya
Ku temukan sudah berbeda
Layaknya nanyian malam
menghantarkan jiwa jiwa larut
merenungi setiap detik penantian
Ku lantuntankan tanpa henti
kembali lagi dari bait dan huruf pertama
kau benar benar tak adil
mengapa harus aku yang menemukan barisan kata ini
lembaran lembaran yang bernyawa ini
sudah lagi aku sendiri
Benar benar tanpa nyali
semakin lembaran akan berakhir
semakin takut ini berhenti
Tak lagi kubaca kau dengan kata apa lagi kalimat
sepucuk demi sepucuk bebunyian nyaring ini
akhirnya tepat ini adalah yang terakhir
Ku baca kau diselembar hati yang lain
supaya hilang
meski bukan kepunyaan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen