Mak

Mak, pagi ini hati kami rindu
pikir pilu
tangan kaku
lidah kelu
kaki malu
mata sayu
Sejak semalam tiada ganti
menatap huruf dan barisannya
menghampiri gelas kaca
dan lembaran baru kertas
Mak, tiada lagi kopi kami manis
meski tiada pernah plastiknya gelas
Karena semalam lagu sendu
bermain tanpa gitar bujang
juga tak adanya duduk gadis yang terpuja
Meski begitu
katanya supaya menambah kenangan
biar sedikit rasa ada
dalam kopi yang telah dingin terseduh
seperti pagi yang disongsong penjual gorengan
Mak, sempatkah nanti kami
mengejar waktu yang tak berputar itu
maukah barang beberapa menit saja
berhenti menunggui
sambil mencicipi gorengan dan kopi hitam Bi Sri
Bilakah dia enggan
supaya saja kami tak menyayati diri
sepenggal mutiara dari bibirmu
keluarkan untuk kami jual
Mak, Manusia seperti kami diberi ragu yang besar
juga keyakinan yang kekal
tapi bisakah yang kekal setia
menampar dan menghilangkan nyawa si besar kasar
Andai saja kami bisa berlayar di tengah ombak Tebakak
barangkali kami akan tahu betapa ombak dan pasang
sama besar dan kekal
Tapi jika nanti ada uang sisa operasi
kami ingin sekali bertandang
menyapa sekolah zaman Belanda di seberang Tebakak
menikmati kapal tua
pangkalan perahu
dan pasir sakti yang tak habis
dimakan ombak dan pasang
Tentu kata orang
yang kami temui di tengah kesepian cafe
Mak, kami ingin dipeluk
diracuni welas
dihabisi membaranya asih
Supaya kami setia saja pada kegelapan hari ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen