Mamak; Penggendong Bakul
Malam
tak selalu sama. Tapi malam punya gaya tersendiri untuk dikenang dan mengenang
malam-malam sebelum ia datang. Malam yang ini juga. Semestinya ia sudah pulang
kepada tidur panjang pemuda kurus. Ia membuat mata pemuda kurus ini tak mampu
menyelipkan matanya di sudut yang lain. Layar yang terkembang di depan wajahnya
harus dipelototinya sambil kesepuluh jari tangannya mengelus lembut huruf demi
huruf yang dicetak di keyboard.
Matanya dipaksa melek. Otaknya di putar-putar.
Secangkir
kopi yang mulai kering menjadi teman setia sejak pikirannya digelayuti oleh
keinginannya mengucap terimakasih pada wanita hebat—terhebat bahkan
baginya—yang sedang berdoa dalam keletihan dan susahnya. Karpet hijau tempatnya
melipat lutut. Lagu Sigma mendegupkan jiwanya tanpa sedikitpun berusaha
berhenti. Baru beberapa paragraph asing yang ia hasilkan. Otaknya masih terus
diputar-putar. Sebentar ia berhenti. Tidak. Dia masih berkutat dengan
otak—jari—mata menuju waktu yang semakin menghimpit.
Dia
masih ingat betul. Otaknya terus berputar. Ini bahannya.
*****
Sekarang
ini belum lewat ayam berkokok. Aki Didih ataupun Wak Dayat belum meniup microphone masjid. Tapi wanita di rumah
geribik itu sudah terjaga. Mengusap matanya yang masih sayu. Tengok kanan-kiri,
suaminya masih terlelap. Turun dari amben.
Melangkah menuju kubangan air—sumur—dengan cahaya dari dian. Dengan tenaga yang masih belum maksimal tangannya meraih tali
hitam yang mengikat ember kecil. Mengambil air wudu dan air untuk dipanaskan.
Solat malam, nanti selesai solat, mendidih juga air di dalam ceret alumunium
itu.
Suara
Aki Didih memecahkan keheningan dalam kegelapan itu. Holilah segera
membangunkan suaminya. Suami istri itu kemudian berbaris rapih. Membentuk saf.
Takbir-salam. Ceuk Lilah, begitu wanita ini dipanggil oleh tetangganya. Ceuk
Lilah sudah saja sibuk memasukkan kayu bakar, mematangkan beras yang tadi sudah
ia cuci dan beri air untuk keluarga kecilnya.
Setengah
jam berikutnya kedua anak lelakinya—yang duduk di bangku SD—bangun. Cepat-cepat
melakukan apa yang dilakukan kedua orang tuanya sebelum mereka bangun. Ceuk
Lilah sudah berkemas. Memasukkan beberapa sembako dagangannya—juga beberapa
pesanan pelanggan—ke dalam bakul—yang terbuat dari anyaman bambu. Sebentar lagi
temannya datang, membawa pisang goreng dan kue kumbu. Yang ditunggu datang
bersama yang lain. Lalu berbagi dengan Ceuk Lilah. Wanita-wanita ini kemudian
menunggangi sepeda tua mereka. Dengan bakul berada di boncengan sepeda mereka.
Menerobos kabut dan waktu. Suaminya pergi menjajakan kerupuk ke setiap warung sampai ke beberapa
desa tetangga.
Beberapa
menit yang lama, mereka sampai di Kem, begitu warga di sana menyebut sebuah
dermaga kecil. Kemudian kendaraan wanita-wanita ini berganti menjadi perahu
kecil. Di tengah hari yang masih berkabut, bakul mereka pindahkan ke atas
perahu-perahu. Kemudian mulai menyalakan mesin. Menuju tempat yang sedikit
jauh. Beberapa menit berselang, terlihat rumah-rumah panggung di tepian sungai
berair payau yang masih juga menjadi tempat buaya berkeliaran. Di sana Tuhan
membagi keberkahan kepada wanita-wanita ini. Perahu disandarkan, diikat pada
kayu-kayu ypenyangga rumah panggung.
Ceuk
Lilah tak berhenti di situ. Ia harus berjalan kurang lebih tiga kilometer. Di
sana tempat para tkaki-tangan Tuhan. Bakulnya ia gendong dengan kain jarik,
bekas dulu menggendong anak-anaknya waktu masih bayi. Berat bakulnya hampir
sama dengan berat badannya yang memang tak besar itu. Kakinya mulai melangkah.
Menapaki tanggul—pembatas antar tambak—yang tak lebar. Belum lagi ini musim
hujan. Jelas jalannya tak semulus biasanya. Walaupun biasanya juga tak mulus.
Belum lama ia melangkah, sela-sela jarinya sudah penuh dengan tanah basah.
Wajahnya
berubah ceria. Senyumnya mulai menyembul. Matanya jelas melihat istri-istri
petambak sudah berada di depan gubuk mereka.
“Pesanan
yang kemarn ada, Ceuk?” seorang istri bertanya. Yang lain ikut menimpali.
Tangan istri-istri petambak itu menulusuri setiap sudut bakul Ceuk Ilah.
“Sayurannya
apa aja, Ceuk?”
“Bawa
bawang merah sama cabai, gak, hari ini?”
“Itu
kumbunya jangan lupa, Mak!” teriak seorang petambak kepada istrinya dari dalam
gubuk.
Lembaran-lembaran
rupiah sudah di tangan. Tapi tak banyak. Hanya beberapa perak. Banyak yang
belum bayar hutang hari ini sudah berhutang lagi.
“Ceuk,
besok, ya. Hari ini suami saya belum ngangkat impes.”
Sambil
senyum Ceuk Lilah mengeluarkan buku catatan. Jelas tulisannya. Ceuk Sarah,
Senin, 29 April 2004, bcabai rawit, kue kumbu, 12 ribu. Pikirannya tak lepas
dari kedua anaknya. Kemarin kedua anaknya menggunakan karet sebagai pengencang
kaus kaki dan penghapus pensil. Beruntung, anaknya tak pernah minta belikan
buku. Anaknya sudah dapat buku waktu bagi raport waktu akhir semester kemarin. Lalu
ia segera beranjak menuju gubuk yang lain. Tak ada gubuk yang berdekatan. Dia
harus berjalan melewati dua petak tambak baru bertemu dengan gubuk yang lain.
Begitu.
Setiap hari. Sorenya, terkadang siang hari ia baru bertemu dengan anak-anaknya.
Tak ada kata istirahat. Jika di rumah ia dan suami membantu anak-anaknya
mengerjakan PR setelah mengaji.
*****
Anak
pertama Ceuk Lilah masuk usia SMP. Kini dia membuka warung sembako di rumah.
Tubuhnya mulai lelah. Bertahun-tahun ia menggendong bakul. Di tengah lelahnya,
ada anaknya yang selalu membuatnya tersenyum. Juara kelas tak pernah lepas.
Anaknya mengerti, ini adalah kebahagian besar untuk mengganti lelah orang tua.
“Anak
siapa dulu?” begitu anaknya menghibur. Ceuk Lilah memang hanya lulusan sekolah
dasar tapi ia begitu keras berjuang agar anaknya menjadi yang terbaik dan
melebihi apa yang didapat orang tuanya. Pendidikan di rumah begitu penting. Ia
sadar terkadang anaknya enggan dimarahi. Tetapi terkadang perlu untuk membuat
jera dan mengerti. Hidup keras dan penuh rintangan.
Anak
pertamanya duduk di kelas IX dan adiknya kelas VII, Ceuk Lilah kembali
melahirkan seorang jagoan. Ini keberkahan baginya dan suami.
Si
anak pertama dan kedua akhirnya bisa sekolah menengah atas di luar kampung. Dengan
jerih payah yang dilakukannya selama ini. Ia berhasil menyulut semangat
anaknya, hingga anaknya berada di kelas unggulan di sekolahnya. Anak ketiga
masih kecil. Masih belum mengerti bagaimana ibunya berjuang.
*****
Anak
pertamanya tengah berjalan di tengah hiruk pikuk dunia kampus. Anak ini selalu
dibuat terpukau dan keheranan dengan tingkah dan cara ibunya membuat ia
tersengat kebahagiaan. Ibunya tak pernah membuat anaknya merasa jauh dari
ibunya. Tak pernah anaknya merasa berada di tempat sepi jika sudah berhadapan
dengannya.
“Pulang
dulu sebentar, syukuran kecil-kecilan. Mamak sudah janji. Kalau kamu bisa
kuliah dan dapat beasiswa.” Suara di seberang sana amat sumringah. Satu lagi
kebahagiaan bagi anak ini. Ibunya bahagia. Tapi dari mana bisa syukuran? Sedang
sebelum berangkat ke kota, ibunya menangis saat ia mengemasi pakaian ke dalam
tas.
“Kalau
mamak punya uang. nggak usah kamu
kuliah payah-payah, Ceng.”
Memang
ini adalah salah satu kelebihan orang tuanya. Mungkin berhutang, atau
membongkar dari tabungan mereka. Yang pasti Ceuk Lilah selalu pandai membagi
hasil warungnya untuk ketiga anaknya. Ceuk Lilah nggak pernah kecolongan. Tak ada kata eman-eman kalau sudah menyangkut anaknya. Apa lagi pendidikan.
Sekarang
ini Ceuk Lilah menikmati apa yang sudah dilakukannya dulu. Tubuhnya cepat
lelah. Tubuhnya cepat terserang penyakit. Jika kakinya sudah mulai kedinginan,
Ceuk Lilah tak akan sanggup beranjak.
*****
Pukul
2:16. Pemuda kurus ini masih saja menyelami apa yang diingatnya dari
wanita—yang biasa ia panggil mamak—yang saat ini jauh dari pandangan matanya. Page-nya mulai penuh. Targetnya sebentar
lagi. Tapi ingatannya masih saja bergerilya. Terlalu banyak.yang ia ingat.
Terlalu sedikit ruang yang dibagikan untuknya.
Anak
mamak dan bapak nggak boleh Cuma jadi
sarjana. Pesan wanita yang menjadi salah satu alasan pemuda ini melek hingga
sepertiga malam mala mini. Malam yang sebetulnya tak pernah juga ia rencanakan
untuk bertemu. Sebelumnya ia merencanakan bertemu malam yang seperti ini tiga
hari yang lalu.
“Mak,
Aceng ikut lomba. Doakan, ya.” kalimat ini sering ia berikan kepada wanita yang
baru ia ingat. Malam ini ia kembali mengirimnya lewat pesan singkat.
“Nggak perlu kamu minta. Mamak selalu
berdoa buat kamu.”
Mata
pemuda ini lama-lama sayu. Dahi nya mulai berkerut. Dagunya sebentar sudah
menunduk. Berkali-kali ia terbangun dari tidur kecilnya. Layar di depan
wajahnya mulai pucat. Suara musik malah makin menderu. Selamat malam. Kenangan
malam adalah kenangan.

Komentar
Posting Komentar