Gadis Tua di Ujung Senja



 
Senja masih enggan untuk tenggelam. Ia menunggu burung-burung kembali dari perantauan, agar burung-burung tak menemui gelap katanya. Sampai kapan ia akan menunggu. Ribuan burung yang merantau tadi pagi, baru setengah dari mereka yang kembali, sedang yang lain mungkin masih dalam perjalanan atau masih asik bercumbu di perantauan.
Samar-samar ku lihat bayangan hitam di ujung jalan. Duduk di bawah pohon tanpa siapapun berteman dengannya. Wanita. Wanita itu tak pernah ku lihat sebelumnya. Rambutnya hitam kelam, tapi kulit wajahnya mulai membentuk gelombang kisut.
Saat ku mulai dekat dengannya, dia langsung menyebut namanya. Yu Margaret. Begitulah dia menyebut dirinya. Berasal dari negeri antah—berantah, dengan sandal kanan yang sudah mulai usang.
“Aku tahu kau sedang memikirkan seorang gadis. Namanya Putri. Bahkan saat kau merumuskan soal UN kemarin, kepalamu diisi penuh dengan nama dan kata-katanya” gadis tua itu tahu keadaanku saat ini. Darimana dia tahu? Baru saja bertemu di sini. “Aku juga banyak tahu tentangmu” katanya lagi.
“Apa yang kau tahu dariku?”
“Sudah ku katakan, banyak yang aku tahu darimu. Semua yang kau lakukan. Bahkan sampai sekarang kau masih menunggu Putri agar kembali, kan?” Mataku hampir saja melompat. Darimana dia tahu itu semua. Dia bukan malaikat. “Mana pernah malaikat berpakaian compang-camping sepertiku?” bahkan dia tahu apa yang ku pikirkan.
Aku mulai banyak bercerita tentang Putri padanya. Banyak memang yang dia tahu. Hanya yang akan ku alami saja yang dia tak tahu. Dia tahu aku menunggu Putri kembali. Tapi, dia tak tahu sampai kapan aku akan menunggu Putri sampai Putri kembali.
“Tunggulah kekasih yang melepasmu di sini, bersamaku” tawarnya. Aku hanya diam dan duduk di sebelahnya. Bersandar pada pohon yang mulai menua.
*****
Tiba-tiba mataku tersilaukan cahaya putih. Nampak gadis berkerudung di tengah-tengah cahaya itu. Putri. Putri kembali. Gadis tua itu tak ada lagi. Gadis tua itu atau Putri, kekasihku, mimpi atau nyata hidupku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen