Untukmu, Gendis

Untukmu gadis yang tak pernah ku lihat rupa, ayu kata pakde yang diiyakan bapakmu. Gadis yang mengirimiku surat beberapa waktu lalu. Gadis yang merindui hidungku, aku sedikit bingung. Aku tak tahu dirimu tapi kau tahu hidungku. Gadis yang berminggu-minggu menunggu surat balasanku. Gadis yang disebut pakde sebagai Gendis. Namamu manis. Seperti artinya, gula.
Rindu yang ada dalam hatimu, aku tahu bukan rindu yang tiba-tiba hadir tanpa kau mengerti musababnya. Tentu, rindu itu bukan soal hidungku yang kau tulis dalam suratmu. Aku juga tahu, bukan soal garansi bapakmu untuk ku kemudian kau mengirimiku surat. Meski tak pernah aku berganti peran,pembicara pendengar-pendengar pembicara, dengan mu. Aku tahu apa yang sebetulnya ingin kau ungkapkan dalam surat itu.
Gendis, gadis yang disebut manis. Saat kau baca surat yang ku tulis ini, aku sudah hampir sampai di rumahmu bersama beberapa pasukan. Bukan. Bukan menyerang untuk perang. Aku didampingi dua orang hebat, bapak dan ibu, serta beberapa saudara bapak ibu, juga saudaraku. Hanya kau saja yang belum tahu hal ini. Bapak dan ibumu, serta keluarga besarmu sudah tahu. Kau pasti bingung untuk apa mereka semua berkumpul di rumahmu hari ini. Orang tuamu juga enggan memberi tahu ada apa.
Simpan yang rapi surat ini. Ini adalah surat pertama yang ku tulis untuk gadis. Karena nanti setelah aku membalas ijab bapakmu, tak ada lagi surat dariku untukmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen