Kang Bagus Merantau

Kalo saja dulu Kang Bagus mau bertahan setelah pergi dari persemayaman Gendis di tanah yang orang-orangnya selalu menjaganya supaya tidak jauh merantau, cerita hari ini sudah berbeda. Nasib Kang Bagus bakal sama dengan para perantau pendahulunya. Sempat sebentar Kang Bagus pergi. Tapi tak lama Gendis mengiriminya surat supaya cepat pulang.
"Kang, Bapak pengen kamu cepat ke rumah. Katanya ndak perlu pergi ke kota sebelah. Cukup di sini saja, nanti Bapak yang bantu buat keperluan sampean sembari siap-siap untuk walimah kita. Cepat pulang, Kang. Aku juga sudah rindu dengan senyum dan hidung mu yang tidak terlalu mancung."
Surat itu sampai di tangan Kang Bagus seminggu setelah Gendis menulisnya. Padahal jarak kampung halaman Kang Bagus dengan kota perantauan tak sampai 1 jam jika mengendarai motor keluaran terbaru.
Semalam suntuk Kang Bagus ndak bisa tidur. Kopi cap kelingking sudah satu bungkus ia habiskan. Bukan soal rindunya Gendis pada hidungnya tapi kata-kata calon mertuanya itu. Pulang sudah barang tentu terjamin. Hidup di kota serba tak tentu, sama dengan pendahulu Kang Bagus. Sampai hari ini, setiap pagi hanya makan bakwan dan tahu bunting. Jika beruntung, ditambah nasi yang berasnya sudah banyak kutu karena beberapa minggu tak digubris.
Tapi hari ini kota itu sepi. Tidak ada Kang Bagus. Tidak ada lagi anak perantau yang menemani anak perantau. Yah, namanya juga hidup. Terkadang kita harus jadi tukang tambal perut orang atau kita yang ditambal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen