Salam Kang Bagus untuk Gendis

Sudah sebulan surat yang dikirim Gendis kepada Kang Bagus belum ada tanda akan terbalas.
Pagi saat ia sedang menyemai bayam yang di tanam bapak di depan pagar rumah, ia dikagetkan dengan suara lembut langkah kaki.
"Ndis, ono salam dari Bagus. Dia bilang kamu suruh tunggu dia sebulan lagi. Nanti dia ke rumah bersama orang tuanya dengan adik perempuannya."
"Iya, Pakde." jawaban Gendis singkat. Walau sebetulnya ia ingin bertanya pada Pakde Rendra ke mana surat yang dikirimnya ke Kang Bagus. Kenapa tak dibalasnya dan malah menitip salam pada Pakde Rendra.
"O, iya. Suratmu sudah dibacanya. Tapi, tinta penanya ndak cukup untuk menulis."
"Iya, Pakde." lagi.
Kalau saja Kang Bagus tahu, Gendis sudah menulis seratus tiga surat lagi setelah seminggu Kang Bagus tak membalas surat pertamanya. Semua rindu yang tak pernah keluar dari bibir tipisnya tak cukup ditampung dalam tulisan tangan kirinya.
Gendis tak ingin memberati hati Kang Bagus. Ini surat keseratus empat yang ditulis Gendis setelah Pakde Rendra mengirim salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen