Kentut Tak Pernah Dtang Sendiri

Datang tak dijemput pulang tak diantar menjadi sebuah kalimat saat orang-orang yang suka dunia roh dan dunia percobaan ingin menghadirkan makhluk yang sebetulnya tak pernah ingin dihadirkan. Setelah hadir eksperimen dilanjutkan. Siapa yang datang? Di mana rumahmu? Bagaimana bisa jadi roh gentayangan?
Tapi beda pertanyaan jika yang datang adalah angin yang berasl dari dalam tubuh. Siapa yang kentut? Dia itu yang kentut. Makan apa bisa sebau ini?
Ah, memang kentut tak akan pernah datang sendiri. Ia daatang bersama nada, aroma, pertanyaan, terkadang juga pertanyaan yang mencaci. Dari mereka, yang datang bersama kentut, nada dan aroma selalu membuat orang risih, marah. Mereka juga sering merusak suasana. Bagaimana tidak, si empunya kentut terkadang malah mengeluarkannya dengan nada keras, dengan aroma yang mengganggu indra penciuman.
Selain merusak suasana, ini juga terkait dengan etika. Apalagi jika sedang bersama orang banyak di dalam ruangan. Memang tidak ada undang-undang atau peraturan tertulis mengenai kentut. Apa-bagaimna kentut, kapan-di mana kentut. Etika kesopanan saat buang angin yang bikin ribut ini semestinya dibuat sendiri oleh si empunya.
Tidak sopan jika membuangnya disembarang tempat, di dalam ruangan saat orang sedang berkumpul, di depan orang lain, apa lagi sampai menimbulkan bunyi dan bau. Setidaknya si empunya juga berpikir, bahwa tidak baik jika ia dibuang di sembarang tempat dan waktu. Apa lagi jika itu dilkukan berulang-ulang.
Etika yang diapakai saat membuangnya itu akan membuat orang lain respect. Masih adanya sopan-santun si empunya kentut. Paling tidak dikehidupan lain, kentut menggambrkan, si empunya juga punya sopan-santun. Kentut juga akan hadir dengan ketenangan suasana bukan keributan.
Mari buang kentut dengan etika bukan seenak saya. Buang kentut lihat orang bukan sembarang yang penting buang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen