Mayat dan Selongsong Senapan Tua
Ketika
nada sumbang mengaung
Mayat-mayat berdiri serentak
Mengangkat segala daya dalam tulang yang rapuh
Memeluk selongsong senapan tua
Mengarahkannya pada lawan yang bergidik memandang wajah garangnya
Kala mayat-mayat membusuk di karam tanah
Wajah lusuh tersenyum dalam kesenyapan terangnya malam
Menahan lirihnya jeritan dalam keperihan luka terbakar peluru
Melupakan seluruh tangan yang melambaikan senapan panas
Ayunan langkah kaki di kejauhan bukit pelupuk pandang
Dan tubuh yang terpanggang teriknya hangat pergulatan di medan
Saat wajah lusuh membusungkan dada
Dentuman meriam bagai lagu pengantar lelapnya mimpi
Senapan layaknya kayu ubi yang tak lagi mampu menjalar
Peluru timah seperti biji bayam tergerus tank baja
Luka punggungpun bak gigitan semut hitam
Lalu wajah lusuh kembali mengembang senyum
Tangan merangkak mengayun selongsong senapan
Memanggang segala lawan dalam kepahitan
Tak lama senyumnya menghilang
Setelah dentuman meriam terakhir
Mayat-mayat berdiri serentak
Mengangkat segala daya dalam tulang yang rapuh
Memeluk selongsong senapan tua
Mengarahkannya pada lawan yang bergidik memandang wajah garangnya
Kala mayat-mayat membusuk di karam tanah
Wajah lusuh tersenyum dalam kesenyapan terangnya malam
Menahan lirihnya jeritan dalam keperihan luka terbakar peluru
Melupakan seluruh tangan yang melambaikan senapan panas
Ayunan langkah kaki di kejauhan bukit pelupuk pandang
Dan tubuh yang terpanggang teriknya hangat pergulatan di medan
Saat wajah lusuh membusungkan dada
Dentuman meriam bagai lagu pengantar lelapnya mimpi
Senapan layaknya kayu ubi yang tak lagi mampu menjalar
Peluru timah seperti biji bayam tergerus tank baja
Luka punggungpun bak gigitan semut hitam
Lalu wajah lusuh kembali mengembang senyum
Tangan merangkak mengayun selongsong senapan
Memanggang segala lawan dalam kepahitan
Tak lama senyumnya menghilang
Setelah dentuman meriam terakhir
Komentar
Posting Komentar