Tetap Ku Katakan

Kau pikir ini jalan nenek moyangmu
Ingat!
Akupun menyumbang keringat di sini
dan beberapa rupiah

Yah, memang kau kepala disini
Kan, baru saat ini
Apa lantaran ini, kau semena-mena
mencaci tanganku yang mulai kotor
perutku yang mulai keriput
mataku yang mendelik melihat bubur tumpah di selokan
rambutku yang tak pernah gundul

Aku hanya berjalan
Kenapa mukamu masam
Nafas jengahmu tersengal
dan jari lentik berototmu menyapukan kotoran di kepalaku

Kau kira kura
yang menelusupkan kepalanya ke dalam tempurung
Aku tak akan lari atau menunduk
Aku ingin sekali mengumpatmu
Agar otakmu yang rusak sedikit kau perbaiki
Nantinya dapat kau gunakan dengan baik

Baju compang bukan karena aku tak ingin membeli
Celanaku camping bukan tak ingin mengganti
tapi ini pemberian Tuhan
kau dititipi-Nya kau telan sendiri

Sekali lagi
Aku hanya berjalan
Kalau memang tak suka
Jalanmu ini tutup saja
Katanya kau pintar
ternyata tak jauh beda denganku
yang kau pikirkan hanya perut

Aku juga minta maaf
jalanmu telah kotor
Karena kakiku telah menginjaknya
Tapi aku juga akan tetap mengatakan

Kau tak lebih sama denganku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen