Darah Baju Hitam


Anne, adalah wanita berumur seperempat abad. Berkiprah sebagai ibu tiriku. Pertama kali aku bertemu pada saat ayah membawanya turut serta dalam acara sekolah pada saat aku pentas drama dan ayah memperkenalkannya padaku. Beberapa kali aku sempat bertemu dengannya di tempat aku dan teman-teman biasa menikmati kopi putih. Ia selalu bersama laki-laki yang sama mudanya dengannya. Kini ia telah resmi menjadi anggota keluarga setelah dinikahi ayah dua bulan yang lalu dan mendapat gelar istri, tentunya itu diberikan hanya oleh ayah. Aku sendiri memberinya gelar ibu ditambahi tiri dengan nada sedikit lebih pelan dibandingkan pada saat aku menyebut dia dengan kata ibu.
Darmansugi. Dia adalah duda beranak dua, aku dan Sari, adikku. Dia juga adalah laki-laki yang telah menjadakan istrinya. Beberapa kali aku sempat memintanya untuk menjemput istrinya kembali. Tapi ia selalu mengatakan tak aka nada lagi janda itu menatap wajahnya. Bukan ia yang enggan, tapi karena memang mantan istrinya itu sudah berwasiat demikian setelah mereka bercerai dan memboyong, lebih tepatnya membagijatah asuh anak-anak mereka. Tapi tak lama ia bertemu dengan wanita yang lebih muda darinya. Hanya terpaut 13 tahun dengan usianya. Darmansugi selalu bercerita kepadaku tentang wanita yang ditemuinya itu, mungkin iapun telah membuat lampu merah untuk kedua kalinya. Pada akhirnya iapun memperkenalkanku dengan wanita itu. Tak lama wanita itu sudah menyandang gelar sebagai istri Darmansugi.
Sulistyo Angger Wati. Ia sering disapa Sulis. Wanita yang melahirkan dua anak ini telah bercerai dengan suaminya beberapa tahun yang lalu. Iapun sama dengan Darmansugi, membagi jatah asuh anak dengan mantan teman sekaligus orang yang telah berjasa dalam hidupnya, hingga ia mampu menamai dua bayi yang ia lahirkan. Tak terlalu banyak tahu aku tentangnya. Ia selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Kerjanya di pasar. Bertemu dengan pembeli dan pria-pria bertato berlengan kekar. Mengambil dan mengembalikan beberapa lembar kertas bertuliskan rupiah pada pembeli. Tapi ia tak pernah selembarpun mengambil rupiah dari pria-pria bertato itu. Sempat seharian aku memelototi kegiatannya saat libur hari nasional. Kemarin aku sempat melihat apa yang ia lakukaan tetapi aku tak menemukan ia ada di belakang meja dagangannya dan menukar dagangannya dengan lembar rupiah. Mataku mencari hingga sudut-sudut pasar. Mataku akhirnya berhenti pada toilet yang lama tak digunakan oleh para penghuni pasar. Sulis bersama seorang pria bertato. Tangannya melingkar pada pinggul pria dan tangan pria itu menempel pada bagian depan tubuhnya. Bibir mereka bertemu cukup lama. Beberapa kali mereka lakukan itu. Aku sungguh tak mengerti apa yang mereka lakukan. Aku pulang dan aku bercerita pada Darmansugi.
Setelah aku selesai bercerita, Darmansugi hanya menghela nafas panjang dan memulai membuka bibirnya yang sejak tadi menutupi lidahnya yang kelu. Ia tak banyak kata. Ia hanya memintaku tak bercerita pada siapapun selain ia.
*****
Ku ketahui Darmansugi beberapa waktu lalu berjam-jam duduk agak jauh dari pasar. Satu tempat yang selalu membuat pandangannya tak lepas. Tapi, kemudian pandangannya beralih saat Sulis berjalan menuju toilet lama itu.
Malam ini mataku tak dapat terpejam. Wajahku keras mendongak ke atas. Menatap helaian benang laba-laba.
“Apa Kau tahu, Lis? Sandi bercerita apa tentangmu beberapa waktu lalu? Dia melihatmu bersama pria di toilet pasar?” Suara Darmansugi sangat lirih.
Aku sedikit bias mendengarnya karenamemang kalau malam suasana di rumah sangat sepi. Apalagi waktu itu sudah pukul 00.05. Sari tentu sudah terbang dan membasahi celana yang ia pakai dan kasur. Tak ada jawaban dari Sulis. Ia malah pergi dan ada suara pintu terbuka.
“Ya. Aku memang melakukannya dengan Darsan. Mandor pasar itu.” Tak ada kata lain menutup malam itu.
Malam-malam berikutnya sama. Sampai suatu malam Darmansugi menampakkan wajah merah dan memelototi Sulis di depanku. Ia marah. Mulutku diam. Tangan yang selalu bicara ini melarang Darmansugi memarahi Sulis. Sari duduk di atas kursinyadan menangis tersedu. Lalu aku menghampiri Sari dan menyuruhnya pergi. Tentu sekali lagi dengan tangan aku menyuruhnya. Aku begini sejak lama. Sejak balita. Kutukan. Barangkali.
Aku semakin bingung menghentikan amarah Darman. Ia begitu marah. Ternyata ia marah atas kelakuan Sulis yang semakin menjadi apabila Sulis sedang berada di toilet pasar yang lama. Aneh? Kenapa ia begitu marah pada Sulis. Bukankah ia juga melakukan hal yang sama dengan Sulis. Berkali-kali aku bertemu dengannya sedang menggandeng anak tetangga yang masih kuliah semester tujuh, Uli namanya. Uli juga pernah di bawa ke rumah, bahkan ia membawa Uli ke dalam kamarku. Darman juga membuka bajuUli dan bajunya sendiri. Dia dan Uli seperti anak kecil. Bergumul tak jelas di atas kasurku. Tapi sekarang ia begitu marah pada Sulis.
Apa sebetulnya yang dilakukan Darman dan Sulis? Sampai memecahkan beberapa perabot rumah segala.
Belum saja Darman berhenti. Sulis sudah pergi.
*****
Tak lama dari pertengkaran malam itu. Sulis dan Sari tak ada lagi satu atap denganku. Enatah kemana dan bersama siapa. Kini hanya tinggal aku dan Darmansugi. Dari sinilah mulai ku uraikan sedikit, yang mungkin nanti akan menjadi beberapa, cerita tentang sebuah keluarga yang tak aku mengerti pola percintaannya. Jika cinta, ku rasa tanpa harus ada yang pergi. Namun, sepertinya memang sudah tak ada lagi sisa-sia cinta yang dulu menyelimuti setiap nafas yang berhembus di antara dinding istana keluarga ini.
Beberapa hari setelah kepergian Sulis dan Sari aku mendapat kabar dari salah seorang tetangga. Mungkin saja kabar burung. Tapi kenapa tak ku percaya sejenak saja untuk sedikit memenuhi kertas putih bergaris tipis milikku.
“Ibumu dan Sari bersama Darsan. Mereka tinggal tak jauh dari pasar. Sedikit ke utara lalu ada rumah bercat merah hitam.” Aku tahu tempat itu. Tempat itu pula yang sering dikunjungi Sulis akhir-akhir ini setelah pertengkarannya dengan Darmansugi.
Pada saat akhir paragraf hendak ku selesaikan, tiba-tiba
“Ibumu itu selingkuh dengan Darsan.” Oh. Ini yang sering diperbincangkan oleh banyak orang di kampungku. Banyak orang yang bersuami—istri namun memiliki gubuk yang berbeda. Karena selingkuh ini. Apa mereka juga melakukan apa yang dilakukan Sulis dan Darman? Saling pegang, meraba, menempelkan bibir, membuka pakaian, dan bergumul?
Paragraf hari ini ku akhiri dengan kata yang tak lagi asing namun baru ku ketahui maknanya dari orang lain. Dan besar-besar aku menulisnya, SELINGKUH!
*****
Sudah beberapa minggu aku berdua dengan ayah. Entah berapa kali bulan. Yang aku ingat hanya pergantian hari. Darmansugi beberapa kali memintaku untuk dapat datang ke rumah rekannya. Tak jauh. Hanya 1 jam perjalanan.  Katanya aku akan dikenalkan pada seseorang. Namun, permintaannya selalu ku tolak. Akhir-akhir ini aku selalu disibukkan dengan sekolah. Pementasan drama tak akan lama lagi. Tinggal menghitung hari.
Saat pementasan drama, entah apa isi drama ini, drama yang sama sekali aku tak pernah mengerti maksudnya. Darman membawa seorang perempuan. Jauh lebih muda dibanding Darman. Mungkin tak begitu jauh jarak umur mereka, sekitar sepuluh sampai lima belas tahun.
Perempuan itu terlihat akrab dalam ingatanku. Ya. Aku baru ingat. Iya adalah perempuan yang biasa aku lihat bersama kawan-kawan saat menikmati kopi putih. Ia selalu bersama pria yang seumuran dengannya. Pria itupun tak asing. Ia sering ku lihat bersama Uli, wanita yang bergumul bersama Darman di kamarku. Pria itu juga sering ku lihat bergumul dengan Uli. Di ruang antara kamar dan ruang tengah rumah tetangga sebelah itu. Mereka membentuk paduan suara berdua. Nyaring. Berisik. Tanpa ada irama yang jelas.
Setelah pementasan, Darman menghampiriku membawa serta perempuan yang sejak tadi mendampinginya. Katanya wanita itu adalah calon ibu baru buatku, sekaligus istri muda untuknya. Namanya Anne. Umurnya 25 tahun. Tebakanku tak jauh meleset.
Beberapa minggu setelah perkenalan itu, Anne diboyong ke rumah dengan status sebagai ibu baru dan istri muda.
*****
“Kenapa Kau, Sari?” Darmansugi berteriak kencang mendapati anaknya yang kedua sudah penuh dengan lelehan darah. Pisau menancap tegar di punggung Sari. Seakan tak lagi ingin beranjak sebelum berbunga dan berbuah di sana. Aku tak sanggup melihatnya. Wajahku ku kerutkan. Merasa ngeri. Takut. Tentu rasanya nyeri dan ah.....
Sulis menusuk perut lalu dada Darsan. Batok kepala Darsan tak luput dari tusukan-tusukan yang dilakukakan Sulis. Darsan ambruk di kamar. Tak ada kaki atau tangannya bergerak lagi. Tak seperti ayam yang disembelih setiap ada hajat atau hari raya. Dia tetap diam walau Sulis sudah membangunkannya berulang kali. Barangkali Darsan tertidur sangat pulas hingga susah dibangunkan. Ibu seperti orang tak waras, kata Sari pada Darmansugi. Tak sedikitpun ia mendengar panggilan Sari. Lalu Sari berlari kemari mencari aku dan Darmansugi.
“Aku merengek meminta ibu untuk mengambilkanku buku di atas almari. Tiba-tiba darah sudah mengguyur tubuhku. Pisau ini juga aku tak tahu kapan ibu menanamnya di sana. Ibupun tak bilang jika ingin menanam pisau di punggungku.” Sari bercerita pada Darmansugi. Matanya berkaca-kaca. Beberapa tetes air bening mulai menetes dari sudut matanya.
Darmansugi membopong tubuh kecil Sari. Lenganku digamitnya.
“Cepat, San!” sambil tergopoh-gopoh.
Tak lama kami sampai tempat Sulis. Benar. Darsan sudah tergeletak tertidur pulas di dalam kamar. Sementara Sulis masih tertawa sambil memegangi kepalnya yang mulai acak-acakan.
“Dia bersama wanita lain. Tetanggamu. Uli!” sulis bersuara. Mungkin ia mencoba menjelaskan sesuatu pada kami. Tidak! Pada Darman tepatnya.
Uli? Berapa pria yang biasa bersama Uli? Darman, Pria yang biasa bersama Anne, dan Darsan, suami muda Sulis dan ayah baru Sari. Ah... serumit inikah aku harus menulis ceritanya pada setiap baris garis pada kertasku? Ku rasa aku harus menyiapkan banyak kertas.
“Dingin......” bibir Sari terlihat membiru. Wajahnya pucat sangat.
Darmansugi kesana-kemari. Wajahnya terlihat sangat bingung. Seharusnya ia ambil kain untuk menutup tubuh Sari. Tapi, ia tak melakukan itu. Sari semakin menggigil. Sulis malah semakin kencang memegang kepalanya. Mengaduh. Aku hanya melihat mereka karena aku sama sekali tak tahu apa sebetulnya yang terjadi.
Sari berhenti menggigil. Darman menggoyang-goyang tubuh Sari. Sesekali ia memanggil nama Sari. Tak ada tanda ia akan bangun. Sama seperti Darsan. Tubuh sari seperti terkena gempa. Bergoyang amat kencang.
“Tak ada lagi.” Wajah Darmansugi menunduk. Wajahnya lemas.
Darman marah besar kepada Sulis, lagi. Ia benar-benar marah. Pisau yang digunakan Sulis utuk membuat lelehan darah pada pakaian Sari di todongkan tepat di depan muka Sulis. Berkali-kali Darman membentak, menanyakan alasan Sulis menanam pisau itu pada tubuh Sari dan Darsan. Kini Sari dan Darsan tertidur amat pulas. Pisau itu ini malah sudah berada tepat pada pelipis Sulis. Bukan lagi Darman menanamnya, sepertinya Darman ingin membuat lubang besar pada pelipis Sulis.
Mata Sulis melotot. Mulutnya menganga lebar. Tangan memegang tangan Darman dan ingin menyingkirkan tangan Darman dari pelipisnya. Kakinya tegang. Lama gitu yang dilakukan Sulis. Darman tak puas. Ia memisahkan tangan dan kepala Sulis. Lalu ia pergi ke belakang.
Lama Darman tak kembali. Ingin aku menyusul Darman. Namun, pikiranku langsung menuju Anne. Aku berlari ke rumah. Ku lihat ada seorang wanita sedang membersihkan lantai. Wanita itu Uli. Sejak kapan Uli datang ke rumah tanpa Darman. Ku lihat ada bercak darah yang belum dibersihkan Uli. Darah? Darah siapa yang Uli bersihkan. Anne tak terlihat sejak mataku menangkap gambar rumah ini. Aku bertanya pada Uli siapa yang menyuruhnya membersihkan lantai dan dimana Anne. Ia bungkam. Lalu melanjutkan pekerjaannya membersihkan lantai.
Ku telusuri setiap bercak darah yang mengarah pada kamar Darman dan Anne. Aku melihat sesosok tubuh perempuan bergantung tepat di pintu kamar Darman dan Sulis. Ia mengikat lehernya dengan tali. Kakinya menggantung sekitar satu jengkal dari lantai. Beberapa tetes darah masih mengucur dari tubuh wanita itu. Seluruh tubuhnya penuh darah. Rambut yang penuh darah dan menutupi wajahnya ku sibakkan. Baju yang ku kenakan ku gunakan untuk melap darah yang menempel pada taganku. Anne. Anne menggantung diri dan menanam pisau di beberapa bagian tubuhnya. Tadi Darman hanya perlu menanam pisau tanpa harus menggantung tubuh Sulis.
“Uli! Kau tahu bagaimana Anne membuat ini?”
“Tiak!” Uli pergi meninggalkan aku dan tubuh Anne yang masih bergantung.
Aku mengambil buku catatanku. Berlari kencang ke rumah Sulis. Ku dapati Darman memeluk tubuh Sari dan Sulis ia letakkan dkat dengan Darsan. Pisau tadi berpindah tempat. Membuat cabang di tengah leher Darman. Wajah mereka tak ada yang tersenyum. Apakah mereka saling benci karena perselingkuhan mereka sendiri? Kenapa harus benci dengan apa yang dilakukan. Atau ungkin mereka tidak bahagia dengan perselingkuhan.
*****
Aku mulai membuka lembaran kertas putih bergaris tipis. Ku letakkan ujung pena tepat di atasnya. Menyayat setiap clah kecil pada kertas itu. Memenuhinya dengan warna hitam. Aku dengan tenang melakukannya. Karena Sari, Sulis, Darman, dan Darsan hanya melihatku dengan wajah tenang. Suasananya begitu tepat untuk mengukir cerita.

Ku biarkan bercak darah di lengan bajuku dan ku teruskan menulis cerita tentang ini semua. Semoga mereka tetap akan selingkuh setelah kematian mereka agar aku tetap dapat merangkai cerita dari kata-kata yang ku ketahui maknanya dari orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen