Lebih Baik Golput

Golput atau tidak merupakan sebuah pilihan dan juga hak setiap individu di negara demokrasi ini. Fenomena Golongan Putih sudah tidak asing lagi di telinga. Setiap kali "Pesta Rakyat" digelar, setiap kali itu pula fenomena Golongan Putih muncul.
Fenomena ini seperti halnya ketika terjadi perang dunia Indonesia lebih memilih menjadi Golongan Putih, tidak berpihak pada Amerika ataupun Uni Soviet. Tentu ada banyak faktor dan pertimbangan mengapa Indonesia lebih memilih menjadi golongan putih ketimbang berpihak pada salah satu kekuatan besar di dunia pada saat itu. Begitupun dengan fenomena pesta rakyat yang rutin digelar oleh KPU.
Banyak ungkapan yang keluar dari masyarakat yang menilai bahwa para calon pemimpin tidak representatif. ada pula ketakutan akan bertambahnya keburukan setelah kepemimpinan sebelumnya. bahkan ketidakpercayaan terhadap pemimpin menjadi faktor utama terjadinya tindak golput. Hari ini begitu banyak pemimpin yang tidak perduli kepada rakyatnya. Pemimpin hanya memikirkan kekayaan pribadi ketimbang kekayaan bangsa.
Tapi, tidak dapat dielakkan bahwa banyak calon pemimpin yang lebih baik dan memiliki kecenderungan untuk mengubah bangsa menjadi lebih baik bahkan akan menciptakan sejarah baru bagi peradaban bangsa. Sesungguhnya para calon pemimpin sudah banyak mengetahui tentang apa yang diinginkan oleh rakyat. Namun, banyak pula para calon pemimpin bangsa yang enggan untuk menciptakan keinginan rakyat, terutama rakyat dipedalaman. Berbagai keinginan kecil yang diinginkan rakyat di pedalaman selayaknya mendpatkan sorotan pula oleh para pemimpin. Contoh kecil, banyak daerah yang seolah terisolir karena jalan, alat transportasi, dan listrik yang sangat tidak memadai.
Jalan yang selayaknya dapat mempermudah rakyat untuk melakukan kegiatan perekonomian, menjadi penghalang terbesar. Pasalnya jalan yang dilalui tidak dapat digunakan pada saat hujan turun karena jalanan bak bubur tanah dan banyak jalanan berklubang. Listrik yang menjadi modal besar untuk sebuah produksipun tidak layak. Di pelbagai daerah hanya menggunakan diesel berkekuatan yang hanya cukup memenuhi beberapa kepala keluarga saja. Diesel ini menyala pada pukul 18.00 dan akan mati antara pukul 23.00 s.d.24.00, terkadang jika penggunaan listrik yang berlebihan solar sudah habis pada pukul 22.00.
Beberapa calon pemimpin harus berani singgah di tempat yang terisolir. Tidak hanya untuk mendapat simpati dari rakyat namun untuk pembelajaran bagi dirinya sendiri.
Golputpun akan dapat ditekan jika calon pemimpin sadar akan kebutuhan rakyat. Para calon pemimpinpun harus bisa mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pawit; Kesumat

Bagus Menghabisi Dosen